KabarFAB – Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Tentacle kembali menyelenggarakan kegiatan pengembangan keterampilan bagi mahasiswa melalui Workshop “Makeup and Hijab Theatrical” yang dilaksanakan di Aula Yosodipuro, Fakultas Adab dan Bahasa pada tanggal 25 Februari 2026. Kelompok studi mahasiswa teater ini berada di bawah binaan Prof. Dr. SF. Luthfie Arguby Purnomo, SS., M.Hum. dengan tujuan untuk menghadirkan ruang belajar yang memadukan pemahaman konsep dan praktik secara langsung.
Workshop yang diketuai oleh Qatrunnada Nafisa Ramadhani dan Vidya Ratna Nasyifa Khairish ini mengusung tema “From Face to Stage: Bringing Characters to Life”. Peserta yang hadir berasal dari berbagai program studi di Fakultas Adab dan Bahasa, seperti Sastra Inggris, Tadris Bahasa Indonesia, serta Bahasa dan Sastra Arab, yang memiliki minat pada seni pertunjukan teater.
Workshop dibuka mulai pukul 14.00 WIB dan dipandu oleh Betha Ayu Mufidah sebagai moderator. Dalam pengantar awalnya, ia menekankan bahwa tata rias bukan sekadar pelengkap, melainkan juga unsur penting dalam membangun identitas dan emosi karakter di atas panggung.
Materi utama disampaikan oleh Maulaya Arinil Haq, S. Hum. Sebagai seorang yang ahli di bidang tata rias teater, ia menjelaskan mengenai konsep dasar makeup theatrical, perbedaan antara makeup sehari-hari dan makeup untuk pertunjukan bahkan dengan makeup film, teknik penegasan garis wajah agar ekspresi terlihat jelas oleh penonton, dan strategi pemanfaatan warna untuk menciptakan kesan dramatis sesuai kebutuhan naskah. Selain itu, ia juga membahas teknik hijab theatrical, termasuk bagaimana cara mengenakan dan menata hijab agar sesuai dengan karakter tanpa mengurangi fleksibilitas gerakan aktor di atas panggung.
Beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait teknik blending, ketahanan riasan di bawah lampu panggung, serta penyesuaian makeup berdasarkan genre pementasan seperti tragedi, komedi, dan fantasi.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik. Dalam sesi ini, tiap kelompok peserta diminta untuk menerapkan riasan sesuai genre yang telah ditentukan. Ada yang menampilkan karakter tragedi dengan penekanan pada ekspresi emosional, karakter realis dengan riasan yang tegas namun tetap natural, hingga karakter fantasi yang memberi ruang eksplorasi bentuk dan warna. Suasana menjadi lebih dinamis ketika beberapa peserta memulai bereksperimen dengan teknik dan warna. Diskusi kelompok, proses koreksi, serta evaluasi langsung dari pemateri membantu peserta untuk memahami lebih detail teknis sekaligus penajaman interpretasi karakter.
Dari kegiatan ini KSM Tentacle berharap mahasiswa sebagai peserta semakin menyadari bahwa kekuatan pertunjukan teater tidak hanya terletak pada dialog dan akting, namun juga terdapat elemen visual yang mendukung keseluruhan pementasan.

Penulis : Nandika Dwi Prastio | KSM Tentacle
