SEMA Fakultas Adab dan Bahasa Gelar Workshop Optimalisasi Critical Thinking

KabarFAB – Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan workshop dengan tajuk “Optimalisasi Critical Thinking dalam Mencetak Mahasiswa Berdaya Saing” pada hari Kamis, 27 Februari 2026, bertempat di Aula Yosodipuro Fakultas Adab dan Bahasa lt. 4. Kegiatan ini dimulai pukul 14.00 WIB dan diikuti oleh mahasiswa serta perwakilan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di lingkungan Fakultas Adab dan Bahasa.

Workshop ini menghadirkan Endro Supriyadi, S.Kom.I. (Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sragen) sebagai narasumber utama. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis mahasiswa sebagai bekal dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, khususnya di tengah derasnya arus informasi di era digital.

Dalam sambutannya, Agun Amelia Saputri sebagai Ketua Pelaksana menyampaikan bahwa workshop ini digagas sebagai salah satu upaya bersama mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, sekaligus membentuk pribadi yang memiliki daya saing, integritas, dan kepekaan intelektual. Ia berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan antar mahasiswa Fakultas Adab dan Bahasa.

Sementara itu, Ketua Umum Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Adab dan Bahasa, Radista Indriani, dalam sambutannya menekankan bahwa mahasiswa saat ini hidup di era banjir informasi, di mana setiap hari media sosial dipenuhi oleh berbagai opini, data, dan informasi yang belum tentu benar. Oleh karena itu, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, melainkan harus mampu menjadi filter yang kritis, yang dapat membedakan antara fakta dan fiksi.

Ia juga menegaskan bahwa Senat Mahasiswa (SEMA) tidak hanya berperan sebagai wadah aspirasi, akan tetapi juga ingin mendorong mahasiswa menjadi lokomotif perubahan – mahasiswa yang aktif berpikir, bergerak, dan berkontribusi bagi lingkungan akademik maupun masyarakat. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta menyampaikan gagasan, sehingga forum workshop dapat berfungsi sebagai laboratorium intelektual untuk mengasah ketajaman analisis bersama.

Ia juga berharap bahwa hasil workshop ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa serta membentuk generasi yang kritis, adaptif, dan berdaya saing di tengah dinamika perkembangan zaman.

Dalam penyampaian materinya, Endro Supriyadi menegaskan bahwa persoalan utama mahasiswa saat ini bukan semata-mata ketidakmampuan membaca teks, melainkan ketidakmampuan membaca makna. Mahasiswa dinilai masih mampu membaca huruf, kata, atau istilah akademik, namun sering kali gagal menangkap substansi, konteks, dan makna peristiwa yang ada di sekitarnya.

Menurutnya, membaca yang sesungguhnya tidak berhenti pada teks, tetapi harus dilanjutkan dengan analisis, refleksi, dan kemampuan memproduksi gagasan baru, termasuk menyusun antitesis atau sudut pandang kritis terhadap suatu persoalan. Ketidakmampuan ini muncul karena minimnya literasi dan rendahnya sensitivitas terhadap situasi sosial.

Ia menekankan bahwa orang yang tidak peka terhadap realitas sosial tidak akan mampu menangkap peristiwa, dan ketika peristiwa tidak ditangkap, maka tidak akan muncul reaksi, kritik, maupun umpan balik. Kondisi inilah yang menjadi problem serius di lingkungan perguruan tinggi saat ini.

Ia mencontohkan berbagai isu publik dan kebijakan nasional yang sering kali ramai diperbincangkan, tetapi minim kajian akademik dari mahasiswa. Padahal, mahasiswa seharusnya mampu melakukan verifikasi isu secara metodologis, menggunakan pendekatan ilmiah yang akurat, serta menganalisis dampak kebijakan secara komprehensif, bukan sekadar mengikuti opini yang beredar.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa berpikir kritis bukanlah perkara instan. Berpikir kritis bukan sesuatu yang muncul secara otomatis, melainkan hasil dari kebiasaan, latihan, dan kesadaran intelektual. Sederhana secara teori, tetapi berat dalam praktik karena menuntut konsistensi.

Kunci awal berpikir kritis, menurutnya, adalah kesadaran akan identitas dan kebutuhan diri sebagai mahasiswa. Mahasiswa harus memahami bahwa kuliah bukan sekadar menyelesaikan SKS atau mengejar ijazah formal, melainkan ruang strategis untuk membangun nalar, karakter, kapasitas, dan keterampilan hidup.

Jika perkuliahan hanya dimaknai sebagai hitung-hitungan akademik semata, maka pola pikir mahasiswa akan menjadi sempit dan tidak mampu melahirkan gagasan besar. Sebaliknya, jika kuliah dijadikan momentum untuk membangun perspektif, meningkatkan kemampuan analisis, dan memperluas wawasan, maka perguruan tinggi akan menjadi medan makna yang produktif.

Pembicara juga menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dalam struktur sosial masyarakat. Sangat berbahaya apabila masa depan bangsa hanya diserahkan kepada elite, pejabat, atau pemegang kekuasaan tanpa kontrol nalar kritis dari masyarakat terdidik, khususnya mahasiswa.

Sebagai penutup materi, mahasiswa dituntut untuk memiliki pisau analisis yang tajam, agar mampu mengambil keputusan secara sadar, bukan menjadi korban tradisi, sejarah, atau arus informasi. Mahasiswa harus mampu berdiri tegak dengan kesadaran intelektual, keberanian berpikir, dan kejernihan menatap masa depan.