KabarFAB – Sesi pertama dalam Training Camp Rumah Scopus dibuka oleh Dr. Jumintono Suwardi Joyo Sumarto, M.Pd., yang membawakan materi mengenai urgensi publikasi ilmiah bereputasi internasional. Setelah memberikan gambaran umum, Dr. Jumintono melanjutkan dengan sesi praktikal yang bersifat teknis namun disampaikan secara komunikatif dan interaktif. Para peserta diajak langsung untuk mengenal platform Scopus.com, memahami cara kerja sistem ini dalam mendokumentasikan serta mengukur rekam jejak keilmuan para akademisi.
Dalam penyampaiannya, Dr. Jumintono menekankan pentingnya mengubah pola pikir yang kerap menghambat banyak akademisi, terutama tuntutan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna sejak awal. Ia menegaskan bahwa langkah awal yang terpenting adalah menulis dan menerbitkan karya ilmiah, karena tulisan yang sempurna namun tidak dipublikasikan tidak memiliki manfaat dalam dunia akademik.





Beliau menggarisbawahi bahwa dalam konteks publikasi ilmiah, hasil akhir menjadi tolok ukur keberhasilan. Sebagai contoh, sebuah disertasi baru bernilai jika sudah selesai dan menghasilkan gelar akademik, demikian pula artikel ilmiah baru dianggap sah sebagai paper Scopus apabila telah berhasil dipublikasikan di jurnal terindeks. Oleh karena itu, penting bagi akademisi untuk segera mengeksekusi ide dan menyelesaikan naskah tanpa terjebak dalam kesempurnaan yang menunda.
Dr. Jumintono memperkenalkan dua fitur utama pada platform Scopus yang harus dikuasai oleh para peserta, yaitu fitur Search dan Sources. Fitur Search berfungsi untuk mencari artikel ilmiah, nama penulis, institusi, maupun topik berdasarkan kata kunci, sedangkan Sources memungkinkan pencarian daftar jurnal yang terindeks di Scopus. Ia menganalogikan kedua fitur ini seperti pintu keberangkatan dan kedatangan di sebuah bandara, di mana meskipun terdapat berbagai jalur dan aktivitas, hanya ada dua pintu utama yang harus dipahami untuk memudahkan navigasi.
Peserta kemudian diminta mencoba mencari nama mereka sendiri di database Scopus untuk memeriksa apakah publikasi mereka telah terindeks dan melihat rekam jejak ilmiah masing-masing. Dalam sesi ini, Dr. Jumintono juga menjelaskan salah satu indikator penting dalam dunia akademik internasional, yaitu h-index.
h-index adalah ukuran yang mencerminkan produktivitas dan dampak sitasi dari karya ilmiah seorang penulis. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Jorge E. Hirsch dan kini menjadi standar dalam berbagai platform bibliometrik, termasuk Scopus dan Google Scholar.
Prinsip dasar perhitungan h-index adalah bahwa seorang penulis memiliki h-index = h apabila terdapat h publikasi yang masing-masing telah disitasi minimal h kali. Misalnya, seorang penulis yang memiliki 5 artikel dan masing-masing artikel mendapatkan setidaknya 5 sitasi akan memiliki h-index 5. Sebaliknya, jika hanya ada 3 artikel yang mendapat minimal 3 sitasi, maka h-index-nya adalah 3.
Dr. Jumintono mengingatkan bahwa h-index tidak hanya menghitung jumlah total dokumen atau total sitasi, melainkan menggabungkan kuantitas dan kualitas dampak ilmiah penulis.
Sebagai ilustrasi, beberapa peserta mencoba memeriksa akun Scopus mereka, antara lain:
- Sri Lestari dengan 2 dokumen dan total 4 sitasi, memiliki h-index 1.
- Nur Huda Ali dengan 1 dokumen dan 4 sitasi, memiliki h-index 1.
- Wildan Mutahir dengan 9 dokumen dan 65 sitasi, memiliki h-index 4.
Penjelasan diberikan bahwa h-index Wildan mencapai 4 karena setidaknya 4 dokumennya masing-masing telah disitasi minimal 4 kali, menandakan karya ilmiahnya tidak hanya dipublikasikan tetapi juga banyak dirujuk dan digunakan oleh komunitas akademik.
Di penghujung sesi, Dr. Jumintono mengingatkan bahwa publikasi ilmiah bukanlah ajang kompetisi individual, melainkan sebuah kolaborasi. Setiap akademisi yang sudah mampu harus berperan membimbing rekan sejawat agar semakin banyak karya ilmiah Indonesia yang dikenal di dunia internasional. Semangat kebersamaan dan dukungan bersama menjadi kunci utama untuk maju bersama di ranah global.
Sesi ini membuka wawasan teknis peserta mengenai sistem publikasi dan indikator pengukuran reputasi ilmiah, sekaligus memotivasi mereka untuk berani melangkah menembus batas mental, memulai menulis, dan berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
