Memperkasa Budaya Islam di Era Digital: Perspektif Malaysia dan Indonesia oleh Prof. Dr. Ermy Azziaty

KabarFAB – Sesi ketiga pada hari kedua Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 menghadirkan Prof. Dr. Ermy Azziaty dari Research Centre for Arabic Studies, Faculty of Islamic Studies, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Seminar ini fokus pada upaya menjaga dan mengembangkan budaya Islam di era digital yang penuh tantangan dan peluang, khususnya dalam konteks Malaysia dan Indonesia sebagai dua negara serumpun dengan mayoritas penduduk Muslim.

Prof. Ermy mengawali presentasinya dengan mengapresiasi undangan yang diberikan. Beliau menyampaikan bahwa era digitalisasi, khususnya dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI), telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, sosial, ekonomi, dan spiritualitas umat Islam. Menurutnya, tantangan era ini menuntut masyarakat Islam untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar keislaman. Beliau juga menyebutkan pengalamannya mengunjungi Yogyakarta dan UIN Surakarta sebagai contoh konkret pentingnya membangun jaringan akademik lintas negara dalam memperkuat budaya Islam di tengah perubahan zaman.

Prof. Ermy kemudian memaparkan beberapa contoh aplikasi digital yang kini digunakan masyarakat untuk memperkuat pemahaman dan praktik keagamaan. Di Malaysia, aplikasi seperti The Noor, Alinurah, dan Zilzar menyediakan akses informasi keagamaan, tanya jawab fikih, dan layanan produk halal. Di Indonesia, terdapat aplikasi Ummah, Azkar, dan Hijrah Apps yang tidak hanya berfungsi sebagai panduan ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan dakwah modern serta pengembangan ekonomi umat. Kehadiran aplikasi ini membuka ruang baru untuk penyebaran dakwah dan pengajaran Islam yang lebih mudah, fleksibel, dan sesuai dengan gaya hidup generasi muda.

Keunggulan aplikasi-aplikasi ini, menurut Prof. Ermy, adalah ketersediaan konten Islami sepanjang waktu, aksesibilitas tinggi, serta penggunaan format interaktif seperti video pendek dan infografik yang menarik bagi pengguna muda. Beliau menyebut kemunculan “komunitas ibadah digital” sebagai dampak positif dari integrasi dakwah dengan teknologi.

Meskipun menawarkan banyak manfaat, era digital juga memunculkan tantangan yang harus diwaspadai. Prof. Ermy mengidentifikasi tiga isu utama: jurang literasi digital Islam, di mana tidak semua pengguna mampu memverifikasi keabsahan konten Islami yang beredar secara daring, sehingga diperlukan proses tabayyun; komersialisasi dakwah, di mana dakwah di media sosial kerap terjebak dalam budaya popularitas yang berisiko menggeser orientasi dakwah dari nilai substansial; dan ketulinan budaya Islam, di mana masuknya budaya luar seperti hedonisme dan tren negatif di media sosial dapat mengikis nilai budaya Islam tempatan jika tidak disikapi dengan bijak.

Prof. Ermy menggarisbawahi pentingnya peran etika, edukasi literasi digital Islami, dan penapisan konten untuk memastikan media digital tidak justru menjadi alat penyebaran nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam.

Prof. Ermy menyoroti peran signifikan lembaga keagamaan dan pemerintah di kedua negara. Di Malaysia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) memproduksi konten melalui platform seperti TV Al-Hijrah dan portal fatwa, serta membentuk unit pemantauan media sosial untuk menangani penyebaran ajaran menyimpang. JAKIM juga bekerja sama dengan Suruhanjaya Komunikasi dan Multimedia Malaysia (SKMM) dalam pengawasan konten digital.

Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Agama aktif dalam program Madrasah Digital Supervision dan Moderasi Beragama, didukung oleh Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tokoh-tokoh seperti Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Abdul Somad juga disebut sebagai contoh teladan dalam penggunaan media sosial untuk dakwah yang cerdas dan terarah.

Dalam sesi diskusi, seorang penanya menanyakan apakah di Malaysia sudah ada riset tentang dampak pembelajaran Islam secara daring. Prof. Ermy menjawab bahwa di Malaysia telah banyak riset dilakukan melalui hibah universitas dan kementerian, dengan hasil serupa Indonesia: pembelajaran daring memberi dampak beragam tergantung pemanfaatannya. Andi dari UIN Sunan Kalijaga menanyakan peran akademisi Malaysia dalam menjaga kualitas pembelajaran Islam daring. Prof. Ermy menjelaskan bahwa semua program pengajaran melalui evaluasi ketat oleh kementerian dan badan akreditasi, dengan pengawasan internal universitas. Pertanyaan lanjutan juga membahas respons akademisi terhadap dampak negatif media sosial. Prof. Ermy menegaskan bahwa di Malaysia terdapat forum diskusi akademik, program TV, dan platform edukatif seperti Persada UKM yang membahas isu-isu aktual dengan pendekatan ilmiah dan keislaman.

Sebagai penutup, Prof. Ermy menekankan bahwa umat Islam harus memiliki pendirian yang jelas dalam menghadapi era digital dan AI. Teknologi harus dimanfaatkan untuk kebaikan, dengan tetap menjunjung nilai-nilai Islam. Beliau juga mengajak kolaborasi lebih lanjut antara akademisi Malaysia dan Indonesia untuk memperkuat budaya Islam melalui pendekatan lintas negara dan lintas institusi, berharap pertemuan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat dalam membangun peradaban digital Islami yang kuat dan bermartabat.