Dr. Suzie Handajani: Representasi “Cindo” dan Ketahanan Budaya di Era Digital

KabarFAB – Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 pada hari kedua ini setelah pemaparan dari Dr. Restu Gunawan, juga menghadirkan sesi seminar yang juga menarik. Dr. Suzie Handajani, M.A., yang merupakan dosen dan antropolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta memaparkan materi mengenai “Representasi Cindo dan Ketahanan Budaya di Era Digital“, dan dimoderatori oleh Elita Ulfiana, M.A (Koordinator Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta).

Dr. Suzie membuka seminar dengan menyoroti dinamika penggunaan istilah “Cina” yang dulu dianggap merendahkan, kemudian digantikan secara resmi oleh “Tionghoa”. Namun, pasca-Reformasi 1998, muncul fenomena baru di kalangan generasi muda keturunan Tionghoa, yaitu penggunaan istilah “Cindo”—sebuah penggabungan dari “Cina” dan “Indonesia”. Istilah ini, menurut Dr. Suzie, dipilih secara strategis untuk mengekspresikan identitas hibrida mereka.

Dr. Suzie menjelaskan bahwa pemilihan istilah “Cindo” merupakan bentuk pernyataan identitas yang tidak sepenuhnya asing maupun sepenuhnya lokal. Generasi muda kini menunjukkan kepercayaan diri dalam menyatakan diri sebagai “Cindo”, menunjukkan wajah Indonesia sambil tetap mempertahankan ciri khas Tionghoa. Hal ini menjadi respons atas pertanyaan diskriminatif seperti, “Kamu lebih memilih jadi Cina atau Indonesia?” yang tidak pernah diajukan kepada etnis lain.

Dalam presentasinya, Dr. Suzie menampilkan beberapa video viral dari content creator Cindo di media sosial. Ia menyoroti Steven Wongso dan Crazy Rich Surabaya yang menampilkan gaya hidup mewah sebagai bentuk pengakuan terhadap stereotip kekayaan. Di sisi lain, Dr. Suzie juga menampilkan video Cindo dari kalangan biasa, seperti “Cina Benteng”, yang tidak bisa berbahasa Mandarin dan lebih beridentitas lokal. Dua kutub ini memperlihatkan spektrum identitas yang beragam: satu menerima dan mempermainkan stereotip, sementara yang lain menolaknya dan menunjukkan keberagaman dalam komunitas Cindo itu sendiri.

Fenomena pencampuran bahasa Indonesia, Jawa, dan Mandarin dalam konten media sosial Cindo menunjukkan bahwa bahasa juga menjadi medan ekspresi identitas. Dr. Suzie membandingkan ini dengan fenomena bahasa “Jaksel” sebagai bentuk adaptasi linguistik anak muda. Baginya, perubahan dalam bahasa bukanlah kerusakan, melainkan bagian dari proses “cultural resilience“—ketahanan budaya yang bergerak maju dan berkembang.

Sesi diskusi memancing berbagai pandangan dari peserta. Seorang peserta dari Banda Aceh berbagi pengalamannya mengenai masyarakat Aceh pasca konflik yang menjadi lebih terbuka terhadap keberagaman etnis dan agama, serta menceritakan asal-usul nama “Solong Coffee” dari kerja sama ayahnya dengan etnis Cina di Aceh. Mahasiswa dari UIN Raden Mas Said Surakarta bertanya mengenai prinsip hidup yang membuat Cindo tampak dominan di media sosial meskipun mereka minoritas. Sementara itu, seorang peserta dari Surabaya menceritakan pengalamannya sebagai ketua FKUB dan harmonisnya interaksi antaragama dan antarbudaya di wilayahnya. Pertanyaan penutup menanyakan apakah ekspresi Cindo yang kian vokal di media sosial merupakan bentuk tekanan politik atau psikologis.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Dr. Suzie menyatakan bahwa keberanian Cindo menyuarakan identitas mereka adalah hasil dari perubahan sosial, termasuk kebijakan Gus Dur yang mencabut diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Mengenai pertanyaan tentang “kenapa mereka sukses”, ia menyatakan bahwa yang menarik adalah melihat alasan yang mereka pilih untuk dikemukakan—bukan jawaban objektifnya, melainkan bagaimana mereka membentuk narasi kesuksesan mereka.

Dr. Suzie mengajak semua peserta untuk merefleksikan kembali makna ketahanan budaya. Apakah budaya harus dilestarikan dengan membekukannya, atau dimajukan dengan mengakomodasi perubahan? Ia menekankan pentingnya saling mengekspos dan membuka diri terhadap budaya lain, sebagai bagian dari proses memahami diri dan orang lain dalam satu bangsa.