KabarFAB – Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 melanjutkan rangkaian sesinya dengan pemaparan dari Prof. Dr. Sherif ElGayyar, Guru Besar Kritik Sastra dan Sastra Bandingan, Universitas Beni Suef, Mesir pada 22 Juli 2025. Dalam seminar daring melalui platform Zoom ini, Prof. Sherif membahas topik “Digital Globalization and Interactive Narratives“, menguraikan isu-isu penting seputar perkembangan globalisasi, transformasi budaya digital, dan dampaknya terhadap praktik sastra kontemporer.





Prof. Sherif mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa globalisasi merupakan transformasi peradaban yang tidak terelakkan dalam sejarah dunia modern. Fenomena ini mencapai puncaknya pasca-runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989 dan bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991, menandai berakhirnya era Perang Dingin dan munculnya dominasi unipolar Amerika Serikat. Dominasi ini tidak hanya tercermin dalam aspek politik dan ekonomi, tetapi juga dalam sistem budaya dan media yang menyebarkan nilai-nilai global secara luas melalui media massa dan digital.
Mengutip pandangan Noam Chomsky, Prof. Sherif menegaskan bahwa globalisasi budaya adalah lompatan kuantum dalam sejarah media yang memperkuat kontrol pusat (Amerika Serikat) atas wilayah pinggiran. Beliau juga menyebutkan bahwa konsep-konsep seperti “desa global”, “komunitas global”, dan “revolusi komunikasi” merupakan bagian dari narasi besar globalisasi yang telah banyak dibahas sejak pertengahan abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti Marshall McLuhan, Zbigniew Brzezinski, dan Alvin Toffler.
Memasuki era digital, Prof. Sherif menegaskan bahwa umat manusia sedang mengalami fase baru yang disebutnya sebagai post-human phase atau fase organisme medium. Pada fase ini, individu tidak lagi terikat pada ego atau otoritas sensorik, melainkan terbuka terhadap pertukaran ide dan kolaborasi lintas batas melalui jaringan komunikasi digital. Era ini menghapus batas ruang dan waktu, serta menciptakan realitas baru yang lebih interaktif dan terbuka.
Salah satu dampak paling signifikan dari globalisasi digital, menurut Prof. Sherif, adalah munculnya sastra interaktif. Sastra ini merupakan bentuk estetika baru yang menggabungkan unsur-unsur kesusastraan dengan teknologi digital, menciptakan pengalaman sastra yang eksperimental, non-linier, dan partisipatif. Sastra interaktif tidak lagi terbatas pada bentuk tulisan cetak semata, melainkan mengintegrasikan audio, visual, animasi, dan interaktivitas melalui platform digital.
Prof. Sherif menjelaskan bahwa bentuk-bentuk sastra interaktif meliputi puisi interaktif, drama interaktif, cerita pendek interaktif, artikel interaktif, dan yang paling menonjol adalah novel interaktif. Novel jenis ini dirancang dengan teknologi hypertext yang memungkinkan pembaca untuk memilih jalannya cerita, memberikan komentar, bahkan turut menulis dan mengubah alur narasi. Hal ini menunjukkan pergeseran mendasar dari posisi pembaca sebagai penerima pasif menuju peran aktif sebagai pencipta atau ko-penulis.
Perubahan ini, menurut Prof. Sherif, sejalan dengan perkembangan teori kritik sastra modern sejak dekade 1960-an, khususnya reader-response criticism serta gagasan tentang “kematian pengarang” yang dikemukakan oleh Roland Barthes, Umberto Eco, Jacques Derrida, dan tokoh-tokoh Mazhab Konstanz seperti Wolfgang Iser dan Hans Robert Jauss. Teori-teori tersebut menegaskan bahwa makna teks tidak sepenuhnya ditentukan oleh pengarang, melainkan dibentuk secara aktif oleh pembaca.
Lebih lanjut, Prof. Sherif memaparkan perkembangan novel interaktif di dunia Barat dan dunia Arab. Novel interaktif pertama di Barat adalah Afternoon: A Story karya Michael Joyce yang diterbitkan pada tahun 1986 dengan menggunakan perangkat lunak Storyspace. Sementara itu, dunia Arab mulai mengenal novel interaktif pada awal milenium ketiga melalui karya Zilal Al-Wahid (Bayangan Sang Tunggal) yang ditulis oleh Muhammad Sanajleh pada tahun 2001 dan diterbitkan dalam format blog daring. Sanajleh kemudian melanjutkan karya-karya interaktif lainnya seperti Chat (2005), Saqi’ (2006), dan Zilal Al-Ashiq (2016). Sejak saat itu, muncul pula nama-nama penulis lain dari dunia Arab seperti Ahmed Khaled Tawfiq (Mesir) dan Abdel Wahid Estito (Maroko), yang turut mengeksplorasi narasi digital dengan latar media sosial dan realitas virtual.
Prof. Sherif menggarisbawahi bahwa novel interaktif bersifat kolaboratif; sering kali ditulis oleh lebih dari satu penulis dan terbuka bagi partisipasi pembaca. Narasi dalam bentuk ini memungkinkan fleksibilitas tematik dan format yang tidak terbatas, mencerminkan kebebasan kreatif di era digital. Meskipun terdapat perbedaan teknis antara sastra digital dan sastra cetak, keduanya saling memengaruhi. Banyak penulis sastra cetak kini mulai mengadopsi estetika digital untuk merepresentasikan dinamika masyarakat kontemporer yang semakin terhubung dan kompleks.
Sebagai penutup, Prof. Dr. Sherif ElGayyar mengajukan pertanyaan reflektif: “Mampukah sastra interaktif digital menjadi arah baru dalam sastra Arab modern dan mengubah cara pandang pembaca terhadap ruang digital yang selama ini dianggap konsumtif?” Beliau berharap bahwa bentuk sastra ini dapat menjadi sarana bagi penciptaan arah estetik baru yang lebih inklusif dan relevan dengan generasi digital masa kini. Sastra digital interaktif, menurutnya, bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan juga wahana untuk membangun kesadaran, memperluas imajinasi, dan menciptakan dialog lintas budaya di era globalisasi.
