Plenary Session 2 ICCL 2025 KH. Muh. Jadul Maula: Narasi Panji Sebagai Tawaran Solusi Hadapi Tantangan Global

KabarFAB – Dalam rangka menyemarakkan Dies Natalis ke-33 Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, Fakultas Adab dan Bahasa kembali menyelenggarakan forum internasional bertajuk The 3rd International Conference on Culture and Language (ICCL). Konferensi yang berlangsung pada Rabu–Kamis, 3–4 September 2025 di Hotel Syariah Surakarta ini mengusung tema “Innovating Knowledge through Language and Culture: Interdisciplinary Pathways for Global Understanding” dan dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, serta mahasiswa, baik dari dalam maupun luar negeri.

Setelah pemaparan dari Prof. Minako Sakai, acara dilanjutkan dengan plenary session pemateri kedua. Acara ini tetap dimoderatori oleh Dr. H. Zainal Arifin, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Dekan Bidang II Fakultas Adab dan Bahasa. Sebagai pembicara selanjutnya, KH. Muh. Jadul Maula, Ketua LESBUMI (Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia) Nahdlatul Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak.

Membuka presentasinya, beliau menyoroti pentingnya penggunaan bahasa Indonesia dalam forum-forum akademik, khususnya konferensi internasional yang membahas mengenai Indonesia. Ia mempertanyakan mengapa bahasa Inggris masih dijadikan medium utama, padahal bahasa Indonesia telah diakui sebagai salah satu bahasa internasional oleh PBB. Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari tantangan kebudayaan: bagaimana bangsa Indonesia mampu mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan sekaligus bahasa hukum.

Lebih lanjut, Jadul Maula menyampaikan bahwa bahasa Indonesia terbukti berhasil mempersatukan bangsa dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang beragam. Pencapaian ini bahkan menimbulkan rasa iri dari negara lain, misalnya Malaysia, yang justru gagal menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa bahasa Indonesia masih perlu terus diperkaya, terutama dalam ranah terminologi ilmiah, hukum, ekonomi, dan bidang pengetahuan lainnya.

Dalam paparannya, ia fokus dengan membahas narasi Panji dalam perspektif kebudayaan Nusantara dan Islam. Jadul Maula menekankan bahwa kebudayaan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai artefak atau ekspresi fisik seperti tari, wayang, atau manuskrip, melainkan juga sebagai kesatuan yang mencakup nilai-nilai serta perilaku manusia. Ia mencontohkan berbagai ekspresi budaya, seperti tari topeng Panji, wayang beber, dongeng Keong Emas, maupun cerita Panji dalam beragam bentuk tradisi. Menurutnya, semua ekspresi tersebut mengandung pesan mendalam tentang nilai, perilaku, dan spiritualitas.

Jadul Maula mengingatkan bahwa budaya Indonesia merupakan salah satu Super Power kebudayaan dunia yang telah diakui UNESCO. Ironisnya, bangsa Indonesia sendiri kerap meremehkan warisan budayanya. Ia mencontohkan bagaimana ekspresi budaya Nusantara sesungguhnya memuat jawaban bagi berbagai problem global, mulai dari mitigasi bencana alam hingga resolusi konflik antarperadaban.

Dalam menjelaskan nilai filosofis tari Panji misalnya, ia menuturkan pengalamannya ketika menyaksikan tari topeng Cirebon. Menurutnya, ketenangan penari Panji yang tidak larut dalam hiruk-pikuk iringan gamelan melambangkan manusia yang tengah mencari jati diri di tengah kebisingan dunia. Pesan moral dari tari Panji, adalah bahwa manusia harus mampu menemukan irama batinnya sendiri yang terhubung dengan Tuhan, bukan sekadar mengikuti arus luar.

Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa kisah Panji memiliki nilai universal. Cerita Panji menyebar luas dari Jawa hingga Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Bahkan, di Thailand, kisah Panji diabadikan dalam teater kerajaan dan diwajibkan menjadi materi pembelajaran siswa. Malaysia pun mengangkatnya menjadi film nasional. Pada tahun 2017, kisah Panji diakui UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World. Ironisnya, pengajuan pengakuan tersebut justru lebih banyak diprakarsai oleh perpustakaan luar negeri dibandingkan Indonesia sendiri.

Menurutnya, para wali di Nusantara menggunakan tiga narasi besar dalam dakwah dan pembentukan budaya, yaitu:

  • Mahabharata melalui wayang kulit,
  • Hikayat Amir Hamzah (Menak), dan
  • kisah Panji.

Jika Mahabharata menekankan tujuan perebutan kekuasaan, maka kisah Panji justru menawarkan perspektif berbeda. Dalam narasi Panji, kerajaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai kesejatian hidup, cinta sejati, nilai kepahlawanan, dan spiritualitas.

Pada akhirnya, Jadul Maula menyebut narasi Panji sebagai “kesatuan dalam keragaman,” yakni mosaik kebudayaan yang mengandung nilai patriotisme, cinta tanah air, kesetiaan, serta penghargaan terhadap sesama. Ia menegaskan bahwa peradaban Nusantara yang dibangun atas dasar narasi Panji adalah peradaban “Giri-Samudra,” yakni peradaban yang berpijak pada jati diri (gunung), tetapi tetap terbuka pada gelombang budaya luar (samudra). Ia menutup pemaparannya dengan ajakan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk menggali kembali narasi Panji sebagai tawaran solusi menghadapi tantangan global, terutama konflik, perang, dan krisis kemanusiaan. Panji, menurutnya, bukan hanya warisan budaya, melainkan juga warisan peradaban yang menghadirkan alternatif bagi peradaban dunia yang lebih berorientasi pada kedamaian dan kemanusiaan.