KabarFAB – Dalam rangka menyemarakkan Dies Natalis ke-33 Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, Fakultas Adab dan Bahasa kembali menyelenggarakan forum internasional bertajuk The 3rd International Conference on Culture and Language (ICCL). Konferensi yang berlangsung pada Rabu–Kamis, 3–4 September 2025 di Hotel Syariah Surakarta ini mengusung tema “Innovating Knowledge through Language and Culture: Interdisciplinary Pathways for Global Understanding” dan dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, serta mahasiswa, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pada hari kedua, rangkaian acara dilanjutkan dengan plenary session kedua yang dimoderatori oleh Dr. H. Zainal Arifin, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Dekan Bidang II Fakultas Adab dan Bahasa. Pembicara pertama dalam sesi ini adalah Assoc. Professor Minako Sakai, Doctor of Philosophy, Associate Professor sekaligus Deputy Head of School (Research) di UNSW Sydney.
Dalam pembukaannya, Prof. Minako menegaskan pentingnya studi budaya dalam memahami dinamika perubahan sosial di Indonesia. Ia juga menyampaikan rasa terhormat atas penghargaan yang diterimanya dari Pemerintah Indonesia pada tahun 2023. Baginya, penghargaan tersebut bukan hanya bentuk apresiasi, melainkan juga sebuah amanat untuk terus memajukan kajian Indonesia (Indonesian Studies) serta memperkuat kolaborasi antar akademisi.
Lebih lanjut, Prof. Minako menyoroti ketertarikannya terhadap peran budaya lokal atau kearifan lokal, termasuk peranan Islam dalam masyarakat Indonesia. Riset dan publikasi yang dilakukannya selama ini banyak berfokus pada isu tersebut, sebagian besar melalui kerja sama dengan akademisi Indonesia.
Dalam penjelasannya, ia menyinggung perkembangan kebijakan budaya di Indonesia yang berlandaskan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ia mencontohkan perayaan Hari Kebudayaan Nasional maupun pengalamannya menghadiri resepsi diplomatik di Canberra, di mana alat musik angklung — yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia — menjadi bagian penting dari acara tersebut.
Namun demikian, Prof. Minako mengajukan pertanyaan kritis: apakah fokus pelestarian budaya yang terlalu menekankan pada artefak berwujud, seperti batik atau angklung, justru menyederhanakan makna budaya itu sendiri? Ia menuturkan pengalaman penelitiannya di Sumatra Selatan, di mana masyarakat setempat bahkan merasa tidak memiliki sesuatu yang ikonik untuk ditonjolkan. Hal ini menggugahnya untuk bertanya, “Apakah kita hanya mengidentifikasi budaya dengan sesuatu yang bisa dilihat dan disentuh?” Menurutnya, jika perhatian hanya terpusat pada artefak berwujud, maka kekayaan budaya yang bersifat tak berwujud — seperti nilai-nilai, pengetahuan lokal, dan cara hidup — berisiko terabaikan.
Dalam kerangka perubahan sosial, ia menekankan bahwa pertumbuhan kelas menengah dan arus globalisasi telah membawa dampak besar pada gaya hidup, preferensi, serta identitas budaya masyarakat Indonesia. Pertumbuhan ini memang menghadirkan peluang, tetapi sekaligus menimbulkan persoalan ketimpangan sosial, khususnya antara daerah perkotaan dan pedesaan maupun antara kelompok yang melek teknologi dengan yang belum.
Sebagai ilustrasi, Prof. Minako mengangkat kisah seorang pelaku UMKM perempuan yang mengalami kesulitan mengakses pasar digital akibat keterbatasan literasi teknologi. Banyak pelaku UMKM akhirnya mengandalkan anak-anak mereka untuk membantu pemasaran digital, sehingga keberlangsungan usaha sangat bergantung pada faktor eksternal keluarga.
Lebih jauh, ia menyinggung isu nasionalisme budaya dan ekonomi yang tengah berkembang, namun kerap mengabaikan identitas etnis lokal dan keberagaman. Ia juga menyoroti munculnya sertifikasi halal sebagai penanda identitas kelas menengah, serta tantangan keberagaman agama, gender, perubahan iklim, dan hak asasi manusia yang perlu mendapatkan perhatian serius. Ia menekankan pentingnya inklusi sosial serta pengakuan terhadap kelompok minoritas dan pemberdayaan perempuan. Menurutnya, universitas memiliki peran strategis melalui pendidikan dan pengabdian masyarakat untuk menghadirkan dampak nyata hingga ke tingkat akar rumput.
Dalam usulan risetnya, Prof. Minako membuka peluang kolaborasi pada berbagai topik, antara lain:
- Islam dan soft power di kawasan Indo-Pasifik,
- pengembangan regional,
- keberlanjutan budaya,
- ketimpangan sosial, dan
- keterlibatan komunitas global.
Baginya, budaya tidak boleh dipandang semata-mata sebagai objek warisan, melainkan sebagai nilai yang hidup dalam praktik sehari-hari. Dengan kekayaan budaya yang dimilikinya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin global dalam hal keberagaman budaya sekaligus berkontribusi memberikan solusi bagi tantangan dunia.
Pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta menanyakan bagaimana generasi muda dapat berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan lokal melalui pelestarian budaya seperti batik. Prof. Minako menjawab bahwa sinergi antara komunitas, pemerintah, dan generasi muda merupakan kunci dalam memperkuat identitas budaya sekaligus memberdayakan ekonomi lokal. Ia menutup presentasinya dengan ajakan untuk memperluas kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat demi menghadirkan pemahaman budaya yang lebih utuh serta solusi konkret atas berbagai permasalahan sosial yang dihadapi Indonesia.
