FGD Lanjutan Rancang Bangun Standar Takarir Bahasa Jawa (Sakabawa)

KabarFAB – Peneliti dari Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta Kembali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) terkait penelitian Standar Takarir Bahasa Jawa (Sakabawa) pada Rabu, 29 April 2026. FGD lanjutan ini merupakan bagian dari penelitian Sakabawa yang berfokus pada penyusunan standar takarir bahasa Jawa dalam konteks media audiovisual.

Penelitian tersebut melibatkan para dosen peneliti di lingkungan Fakultas Adab dan Bahasa dengan ketua tim penelitian Prof. SF. Luthfie Arguby Purnomo. Melalui FGD lanjutan ini, tim peneliti berusaha untuk memperdalam aspek linguistik, transliterasi, serta tantangan implementasi aksara Jawa dalam praktik subtitling modern.

FGD lanjutan ini menghadirkan narasumber Supardjo, pegiat aksara Jawa yang juga merupakan pengurus Yayasan Sastra Lestari. Dalam paparannya, beliau menyoroti bahwa pembahasan mengenai takarir bahasa Jawa tidak dapat dilepaskan dari persoalan mendasar mengenai standardisasi bahasa itu sendiri. Menurutnya, keberagaman bentuk bahasa Jawa, khususnya variasi tingkat tutur seperti ngoko, madya, dan karma, menjadi tantangan tersendiri ketika diterapkan dalam sistem takarir yang membutuhkan konsistensi linguistik.

Diskusi berlanjut pada bagaimana aksara Jawa diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam media hiburan, terutama video-video populer yang kini banyak dikonsumsi publik melalui platform digital. Supardjo menjelaskan bahwa penerapan aksara Jawa dalam video hiburan bukan sekadar soal transliterasi, namun juga menyangkut keterbacaan, ritme visual, dan kenyamanan audiens dalam membaca teks pada durasi yang terbatas.

Dalam sesi diskusi, beliau juga menekankan bahwa kompleksitas aksara Jawa menjadi tantangan signifikan dalam implementasi takarir, terutama pada film atau video dengan tempo cepat. Kecepatan pergantian dialog dalam media audiovisual membuat aksara Jawa memerlukan penyesuaian tertentu agar tetap dapat dibaca secara efektif oleh penonton. Oleh sebab itu, diperlukan strategi adaptasi yang mempertimbangkan keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan teknis media modern. Salah satu poin penting yang juga mengemuka dalam FGD lanjutan ini adalah gagasan bahwa standardisasi tulisan Latin bahasa Jawa harus terlebih dahulu dipastikan sebelum dilakukan konversi ke aksara Jawa. Menurut Supardjo, penentuan standar ejaan Latin Jawa menjadi fondasi utama dalam proses transliterasi. Tanpa adanya kesepakatan terhadap bentuk Latin yang baku, proses penerjemahan ke aksara Jawa berpotensi menghasilkan variasi yang tidak konsisten.