ADIA Annual International Conference 2025 : Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society

KabarFAB – Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 resmi dibuka di Hotel Syariah Solo. Acara yang mempertemukan para akademisi dan delegasi dari berbagai institusi ini berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juli 2025 dengan mengusung tema “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society.”

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd., Dekan Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta selaku tuan rumah, menyampaikan terima kasih kepada seluruh hadirin. Beliau mengakui bahwa perencanaan acara ini sempat diwarnai keraguan, bahkan beberapa dekan khawatir mengenai anggaran. Namun, keyakinan untuk menyelenggarakan acara di Surakarta akhirnya menguat, dan beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota forum ADIA yang telah berkomitmen untuk hadir.

Konferensi ini dilaksanakan dengan skema campuran (blended), menggabungkan sesi daring dan luring. Meskipun sempat diragukan, ADIA Annual International Conference 2025 ini berjalan sangat baik dengan partisipasi sebanyak 99 makalah dari 22 institusi dan 109 peserta. Makalah-makalah tersebut terbagi dalam tiga kategori utama: 30 artikel untuk Sejarah dan Budaya, 40 artikel untuk Bahasa dan Sastra, serta 29 artikel untuk Perpustakaan dan Informasi.

Prof. Imam menekankan pentingnya silaturahmi dan penggunaan forum ini untuk kepentingan bersama ADIA. Mewakili panitia, Prof. Imam menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan berharap seluruh hadirin dapat membawa pulang kesan baik dari Surakarta.

Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., Dekan Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang sekaligus Ketua Forum ADIA, menyampaikan rasa syukurnya atas pertemuan kesekian kalinya ini. Sebagai Ketua Asosiasi, Prof. Faisol mengapresiasi terselenggaranya Annual International Conference ADIA 2025 ini di Surakarta.

Prof. Faisol berharap forum ini menjadi wadah untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang belakangan ini menjadi kegelisahan bersama, terutama dalam dunia pendidikan yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) menjadi pertanda tantangan baru di era kemajuan digital.

Ia menyoroti hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kemajuan digital telah melahirkan tiga bentuk distopia: Distopia Sosial Ekonomi yang menciptakan ketimpangan baru, Distopia Ideologis yang membuat sulit membedakan fakta aktual di media sosial dan memunculkan pemikiran keagamaan ekstrem karena kebiasaan “berguru pada Google,” serta Distopia Totaliter di mana nilai kemanusiaan bisa menjadi nihil.

Prof. Faisol merasakan dampak ini dalam mengajar, di mana hanya 13% mahasiswanya menyukai presentasi PowerPoint, sisanya lebih memilih media interaktif. Fakta ini mendorongnya untuk mendefinisikan ulang kompetensi seorang dosen, dengan menyatakan, “The Lecture Is Dead,” yang berarti peran dosen tidak lagi sekadar mentransfer ilmu, melainkan harus jauh lebih kompleks.

Fenomena ini, menurutnya, harus disadari bersama, dan ADIA adalah forum yang tepat untuk mendiskusikan serta memengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada. Ia juga mencontohkan perguruan tinggi di luar negeri yang menutup program studi bahasanya karena adanya kacamata berteknologi AI sebagai penerjemah, sebuah kegelisahan yang patut direnungkan bagi asosiasi ADIA yang fokus pada ilmu-ilmu sosial.

Meskipun demikian, Prof. Faisol optimistis bahwa ilmu sosial humaniora masih memiliki peluang besar karena dimensi kemanusiaan tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin. Namun, ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menghadapi kemajuan ini, etika sebagai pengguna AI, dan perlunya kebijakan baru terkait penggunaan AI oleh mahasiswa. Ia menekankan pentingnya merumuskan strategi agar eksistensi ilmu sosial humaniora tetap relevan.

Di akhir sambutannya, Prof. Faisol menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh panitia lokal atas usaha dan upaya yang telah dilakukan sejak Februari lalu, berharap segala upaya tersebut menjadi pintu keberkahan.

Prof. Dr. Suyitno, M.Ag., Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama R.I., menyampaikan harapan besar agar acara ini tidak hanya produktif, tetapi juga memberikan manfaat yang luas bagi seluruh anggota forum ADIA, kajian keilmuan, umat, dan bangsa.

ADIA, sebagai forum yang berfokus pada Sosial Humaniora, menghadapi tantangan yang kompleks dan beragam di masa kini, sehingga diperlukan upaya adaptasi, inovasi, dan kemampuan membaca tantangan. Permasalahan saat ini tidak hanya terbatas pada ilmu sosial itu sendiri, tetapi juga mencakup seluruh aspek kemanusiaan, yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun isu yang berdiri sendiri.

Sebagai contoh, ia menyoroti isu politik global terkini, seperti kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat. Meskipun terkesan sebagai urusan ekonomi semata, kebijakan tersebut memiliki dampak multidimensional pada pendidikan, kehidupan kampus, bahkan isu-isu kemanusiaan. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun persoalan, termasuk dalam ranah keilmuan, yang dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, momentum kajian integrasi ilmu menjadi semakin relevan.

Integrasi ilmu yang menggabungkan sains, teknik, rekayasa, dan matematika menunjukkan betapa dunia kini memastikan terjadinya keterpaduan ilmu. Jika kajian ADIA berdiri sendiri, penyelesaian masalah tidak akan tuntas. Untuk itu, ia mendorong paralelisme kajian di ADIA dengan mengundang para pakar dari berbagai disiplin ilmu agar isu-isu tertentu dapat dibedah dari berbagai aspeknya.

Contoh konkret dari upaya integrasi ini adalah re-branding AICIS (Annual International Conference on Islamic Studies) pada tahun 2025 menjadi Annual International Conference on Islam, Science, and Society. Perubahan ini bertujuan untuk menghadirkan kajian Studi Islam yang bersentuhan dengan berbagai sisi lain, termasuk sosial humaniora yang tak terpisahkan dari kajian keislaman itu sendiri. Ini sejalan dengan upaya integrasi ilmu yang selama ini diusung, dengan memadukan berbagai pendekatan keilmuan, termasuk pendekatan ulumuddin yang menjadi dasar pengetahuan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Prof. Suyitno menegaskan bahwa meskipun ada ilmu dakwah, Ushuluddin, dan Syariah sebagai ilmu dasar di PTKIN, upaya integrasi yang sungguh-sungguh sangatlah penting agar integrasi tidak hanya menjadi slogan semata. Sudah saatnya kajian-kajian sains di PTKIN diberikan panggung, dan ilmu-ilmu sosial berbicara tentang isu-isu lokal dan global dalam mengatasi permasalahan saat ini. Kita tidak bisa lagi terpaku pada urusan internal, karena akan terus bersentuhan dengan bidang-bidang lain.

Ia juga menyoroti bagaimana generasi saat ini sangat familiar dengan dunia digital, terutama Generasi X. Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Namun, disayangkan bahwa media sosial belum dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan edukatif, termasuk untuk mendukung pengembangan keilmuan. Hal ini menjadi tantangan bersama yang harus diubah, termasuk dalam pengelolaan berbagai platform media sosial oleh bidang-bidang ilmu, mengingat sebagian besar masyarakat bersentuhan dengan media sosial.

Selain itu, masalah serius lainnya adalah distruksi tata dunia kerja. Sekitar 78 persen pekerjaan yang selama ini dilakukan secara fisik akan beralih ditangani oleh mesin, robot, dan kecerdasan buatan. Fakultas yang berfokus pada sosial humaniora harus mulai memikirkan bagaimana mahasiswa dapat bertahan di tengah pergeseran pangsa kerja ini. Tidak cukup hanya berbicara tentang kepentingan akademik semata, tetapi juga harus memikirkan luaran dan peluang kerja bagi lulusan.

Kampus diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi terhadap kebutuhan pasar bagi para alumni. Kampus bukanlah “pabrik” yang berdiri sendiri tanpa memikirkan pangsa pasar, atau “menara gading” yang terpisah dari realitas. Sebaliknya, kampus harus menjadi “pabrik” yang bertanggung jawab terhadap produk-produk yang dihasilkan. Seringkali, konferensi tahunan hanya memuaskan diri sendiri dalam diskusi, serupa dengan praktik selama ini.

Penting juga untuk tidak melupakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), yang merupakan bagian krusial dari tugas kampus. PKM tidak hanya dimaknai secara sederhana, tetapi juga sebagai upaya memastikan peran akademisi dapat lahir secara terstruktur dan sistematis, serta memberikan solusi terhadap permasalahan kebangsaan dan keumatan.

Tantangan terkini yang tidak kalah penting dan sejalan dengan status kita adalah program SDM Unggul. Presiden telah mencanangkan pendidikan unggul. Jika dilihat dari Global Talent Competitiveness, Indonesia masih harus berjuang keras dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara, dengan peringkat yang masih memprihatinkan dan jauh di bawah Singapura. Hal ini sejalan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pertanyaannya bagi para akademisi dan dosen adalah bagaimana kita dapat meningkatkan IPM nasional.

Prof. Suyitno berulang kali mengingatkan bahwa meskipun sudah ada puluhan rekomendasi yang dihasilkan dari berbagai konferensi, pertanyaannya adalah apakah rekomendasi saja sudah cukup untuk mengatasi tantangan yang ada.

Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., dalam sambutannya menyatakan bahwa tema ADIA Annual International Conference 2025 kali ini, “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society,” sangat relevan untuk konteks dunia global saat ini. Manusia terlahir dengan beragam perbedaan dan keunikan individual, bahkan sidik jari dan DNA setiap orang pun berbeda. Inilah fitrah manusia.

Di tengah perbedaan individual tersebut, budaya juga lahir dengan keunikannya masing-masing. Setiap budaya dan tradisi masyarakat akan selalu berbeda, tergantung bagaimana masyarakat itu mengembangkannya. Di tengah perbedaan budaya dan tradisi itu, kita dituntut untuk menjaga agar budaya dan tradisi yang kita miliki tetap bertahan dan eksis, terutama saat teknologi digital berkembang pesat.

Ketahanan budaya suatu masyarakat menjadi penting karena ia adalah identitas yang membedakan dengan budaya lainnya. Apalah artinya suatu masyarakat memiliki kemampuan digital yang canggih apabila budaya dan tradisinya hilang dan tidak lagi menjadi identitasnya.

Beliau menyatakan bahwa perkembangan literasi digital yang terus berkembang saat ini seharusnya mendorong kita untuk sadar akan budaya dan tradisi yang kita miliki untuk dipertahankan. Kecerdasan Buatan (AI) tentu saja berkembang secara masif dan pesat, tetapi bagaimana budaya dan tradisi masyarakat kita terus hidup menjadi landasan yang kuat bagi dinamika perkembangan AI. Jangan sampai AI kemudian menjadikan kita tidak beridentitas karena kehilangan budaya dan tradisi.

Databoks menyampaikan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengidentifikasi serta mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks, berita bohong, atau informasi palsu sepanjang tahun 2024. Tentu ini bukanlah budaya dan tradisi kita. Untuk itu, literasi digital dengan empat pilarnya, yaitu kecakapan digital (digital skills), keamanan digital (digital safety), budaya digital (digital culture), dan etika digital (digital ethics), seharusnya menjadi fondasi bagi kita untuk berselancar di dunia digital, termasuk AI, dengan tetap berbudaya dan bertradisi, sehingga kemanusiaan kita tetap terjaga dan terus dijaga.

Di akhir sambutannya, beliau menyatakan selamat berkonferensi, semoga sukses dan mampu menghadirkan rekomendasi ilmiah yang berdampak bagi kebijakan publik.

Pada kesempatan yang sama juga dibacakan hasil lomba ADIA International Festival 2025. Berikut adalah hasil dari ADIA International Festival 2025.

JUARA LOMBA LKTI

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Imelda Wigati Dan Faaza An NajwaJuara IUIN Raden Mas Said Surakarta
2Muhammad Nur Dan Nur Latifatul QalbiJuara IIUIN Maulana Malik Ibrahim
3Tubagus Naufal Ramadhan Dan Azka UbaidillahJuara IIIUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
41. Laelah Ramadhani 2. Siska Restu PurbayaHarapan IUIN Raden Mas Said Surakarta
5Agil Saputra, Muhammad Rizky Dan Adel Al QadarHarapan IIUIN Imam Bonjol Padang
6Aisyah Nabilah Azhaar, Fina Ochtavia Ramadhani, Bunayya Nisa Razka FadilaHarapan IIIUIN Raden Mas Said Surakarta
7Asiffa Dwi Rahmat Diyanti Dan Nisrina Nida SalmaBest Social ImpactUIN Raden Mas Said Surakarta
8Zikri Akbar, Ayu Andira, Syahrul KhadriBest StructureUIN Imam Bonjol Padang  

JUARA LOMBA PUISI ARAB

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Nawal FatinJuara IUIN Maulana Malik Ibrahim
2Lukman Hakim El- HakiemJuara IIUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
3Berlian Alfin LubisJuara IIIUIN Imam Bonjol Padang
4Muhammad Hanif ArizHarapan IUIN Maulana Malik Ibrahim
5Az-zahraturrimaHarapan IIUIN Ar-Raniry Aceh

JUARA LOMBA PUISI BAHASA INGGRIS

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Laiva DamayantiJuara IUIN Raden Mas Said Surakarta
2M.Rezky IhsanJuara IIUIN Imam Bonjol Padang
3Syita FitryadesyJuara IIIUIN Raden Mas Said Surakarta
4Aldifa Apridita Indiarta Marta Tinaya  Harapan IUniversitas Muhammadiyah PKU Surakarta

JUARA LOMBA PUISI BAHASA INDONESIA

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Danilah Ali FirdausiyahJuara IUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2Elmira DamayantiJuara IIPP.Annuqayah Lubangsa Putri, Madura
3Husnul HasanahJuara IIIUIN Imam Bonjol Padang
4Meta AnandaHarapan IUIN Raden Fatah Palembang
5Tri Hidayah AisyahHarapan IIUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
6Jovita Dara YudaHarapan IIIUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
7Iffah Putri LestariMost Powerful ReadingUIN Raden Fatah Palembang
8Ngafiatul FauziahMost ExpressiveUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

JUARA BACA BERITA ARAB

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Risya Sabrina IndiraJuara IUIN Imam Bonjol Padang
2Mar Atus SholehaJuara IIUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
3Raisa Nabila RahmaniJuara IIIUIN Raden Fatah Palembang

JUARA LOMBA BACA BERITA BAHASA INGGRIS

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Luthfina Cahyani ShintadewiJuara IUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2Dina RinjaniJuara IIUnmuh PKU Surakarta
3Ambar Insanul Isti’anahJuara IIIUIN Raden Fatah Palembang
4Rizka Nur WidyaHarapan IUIN Raden Mas Said Surakarta
5Siska DwiyaniHarapan IIUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
6Foursa TasniimHarapan IIIUIN Imam Bonjol Padang
7Solikha Nur DzulfianiBest News VideoUIN Raden Mas Said Surakarta
8Naimatul MufidaBest ArticulationUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

JUARA LOMBA STORYTELLING BHS ARAB

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Marsa Rizal PutriJuara IUIN Imam Bonjol Padang
2Silmi Abidah KamiliyaJuara IIPP.Annuqayah lubangsa putri Madura
3Iffah Putri LestariJuara IIIUIN Raden Fatah Palembang
4Hilmatusshaima Nur AfwanyHarapan IUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
5Moh. Khairil Yani HasbiHarapan IIUniversitas Annuqayah Madura
6Virna AnggrainiHarapan IIIUIN Raden Fatah Palembang

JUARA LOMBA STORYTELLING BAHASA INGGRIS

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Nur RosyidahJuara IUIN Sunan Ampel Surabaya
2Aisyah NurfitriyaniJuara IIUIN Raden Mas Said Surakarta
3Dede AsnazelaJuara IIIUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
4Linda OfrasiHarapan IUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
5Winda Dwika Putri HasibuanHarapan IIUIN Imam Bonjol Padang
6Farhama Nursyifa JumainHarapan IIIUniversitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji (UIN AMSA AMBON)
7Siti RohmatinBest SettingPP.Annuqayah Lubangsa Putri Madura
8Salsabila RaudhaBest CostumeUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

JUARA LOMBA PIDATO BAHASA ARAB

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Muslimah Salsabila AhmadJuara IMarkaz Arabiyyah Pare
2Nasrudin Rafa’iJuara IIUIN Maulana Malik Ibrahim
3Nafisatul KhalidahJuara IIIPP.Annuqayah lubangsa putri, Madura
4Munif Muhammad HatimHarapan IUIN Raden Mas Said Surakarta
5Ahmad ZulfaHarapan IIUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
6Silmi Lailatil FajriHarapan IIIUIN Imam Bonjol Padang
7Muhammad Syahrul HidayatBest CostumeUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
8Alifa Nurul FajriBest articulationUIN Salatiga

JUARA LOMBA PIDATO BAHASA INGGRIS

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Zahara Tsabilla IkhrimaJuara IUIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2Shaqinah QuraniahJuara IIUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
3Syifa Talitha AlmiraJuara IIIUIN Raden Mas Said Surakarta
4Muhamad Hafidz Ar-RizkiHarapan IUIN Imam Bonjol Padang
5Sofi Mayla FirdausHarapan IIUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
6Hasna AliyaHarapan IIIUIN Syarif Hidayatullah Jakarta
7Reyhan Rahmat IlahiBest ArticulationUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
8Feren Legita Pramudya WardaniBest IntonationUIN Raden Mas Said Surakarta

JUARA LOMBA RESENSI BUKU

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Sesa Erin Juniartaty, Waviyul Azizah, Arsheila Rindang SolehaJuara IUIN Raden Fatah Palembang
2Abdul Hadi, Sidah Asiah, Msy. Nur Zahara AnggrainiJuara IIUIN Raden Fatah Palembang
3Moh. FadllurrahmanJuara IIIUniversitas PTIQ Jakarta
4Shilna Ila SalsabilaHarapan IUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
5Alwardatun NiswahHarapan IIUIN Imam Bonjol Padang
6Cindri LarasHarapan IIIUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
7Farida Novita RahmahMost ElaborativeUIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JUARA LOMBA POSTER

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Muthi’ah Nurul JannahJuara IUnimuh PKU Surakarta
2Avissina AsqolaniJuara IIUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
3Muhammad Akhdan Arif Al’AzzamJuara IIIUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
4Media HMPS (UIN SKA)Harapan IUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
5Zaenal AbidinHarapan IIUIN Maulana Malik Ibrahim
6Sity Sa’dun Bin Saleh  Harapan IIIUniversitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji (UIN AMSA AMBON)
7Renaldi Yonra FebriansyahMost CultureUIN Imam Bonjol Padang
 8  Raisa Nabila RahmaniMost ElaborativeUIN Raden Fatah Palembang

JUARA LOMBA KOMIK MODERASI

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Aisyah Nur AlifahJuara IUIN Raden Fatah Palembang
2Nadhira Nurul IzzahJuara IIUIN Imam Bonjol Padang
3Wahyu Catur Setiawan dan Khasnah FadilaJuara IIIUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

JUARA LOMBA VLOG

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Reza Rifky Rachmawan, Dwi Rosita RamadaniJuara IUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
2Yustisia Candra, Artiya Anugrawati, Zulfa Aulia, Ananda Zuhud, Ahmad Abdul KarimJuara IIUIN Raden Mas Said Surakarta
3Muhammad Husain AkbarJuara IIIUIN Maulana Malik Ibrahim
4Almira Sashih Aprillia Putri SHarapan IUIN Raden Mas Said Surakarta
5JustangHarapan IIUIN Raden Fatah Palembang
6Nayes PritaniaHarapan IIIUIN Imam Bonjol Padang
7Mas’ul Asysyifa MargianaMost EngagingUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
8Amelia Putri AstutiMost RelatableUnmuh PKU Surakarta

JUARA LOMBA DUBBING BAHASA ARAB

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Ummu Kultsum NavizaJuara IUIN Maulana Malik Ibrahim
2Ririn AgustinJuara IIUIN Raden Fatah Palembang
3Restu RahmandaJuara IIIUIN Imam bonjol Padang
4Khansa’ HafizhahHarapan IUIN Raden Mas Said Surakarta
5Yohana NovitasariHarapan IIUIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

JUARA LOMBA DUBBING BHS INGGRIS

NO.NAMAJUARAINSTITUSI
1Syareefah Anissa Al BaragbahJuara IUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
2Syaikha Zakira DenilaJuara IIUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
3Vivi FerryanaJuara IIIUIN Raden Mas Said Surakarta
4Sabrina Zaliana PutriHarapan IUIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
5Siti MasyithahHarapan IIUIN Imam Bonjol Padang
6Diana MailikhahHarapan IIIUnmuh PKU Surakarta