KabarFAB – Jumat pagi (24/10), Aula Yosodipuro lantai 4 Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta dipenuhi antusiasme mahasiswa yang mengikuti kegiatan bertajuk “Membaca Literasi, Menulis Riset: Sinergi antara Kajian Literasi dan Literatur Reviu.” Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 11.00 WIB ini terselenggara berkat kolaborasi antara Program Studi Tadris Bahasa Indonesia dan HMPS Tadris Bahasa Indonesia Kabinet Lintang Aksara.



Kegiatan ini dihadiri puluhan mahasiswa, terutama dari angkatan akhir yang sedang bersiap menempuh penelitian. Acara dibuka dengan sambutan oleh Elita Ulfiana, M.A., Koordinator Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Dalam sambutannya, Elita menekankan pentingnya memahami literasi sebagai proses reflektif dalam riset, bukan sekadar aktivitas membaca atau menulis ulang. “Literasi sebagai reviu yang berbentuk pengulasan, tidak hanya sekadar membaca, dan nantinya akan menemukan gap penelitian. Motivasi penelitian itu sederhana: niat dan bismillah,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Sesi pertama diisi oleh Cicik Tri Jayanti, yang memberikan materi tentang pentingnya meneliti dari hal-hal yang dekat dengan minat pribadi. Ia menuturkan bahwa penelitian yang dilandasi rasa suka akan menghasilkan karya yang bermakna sekaligus menyenangkan. “Mulailah penelitian dari hal-hal yang kalian sukai. Nantinya penelitian kalian tidak hanya menghasilkan karya ilmiah semata, tapi juga kesenangan tersendiri,” ucapnya.
Interaksi hangat terjadi saat sesi tanya jawab. Nova, salah satu peserta, bertanya bagaimana cara menyeimbangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam riset. Cicik menjawab lugas, “Kuasai AI dulu baru bisa bijak dalam menggunakannya. Kalau tidak, kita justru akan bergantung dan AI yang hadir sebagai asisten malah menjadi joki.” Sementara itu, Fathan menanyakan cara meneliti objek dari media sosial yang rentan terkena take down. Cicik menegaskan pentingnya etika dan kejelasan data, “Dalam penelitian ada etika yang harus dijaga. Untuk mengantisipasi hal itu, cantumkan pranala dan waktu akses sumber data. Jadi, jika sumber tersebut terhapus, kita sudah punya data valid, bukan manipulasi.”




Materi selanjutnya disampaikan oleh Adista Nur Primantari dengan tema “Miskonsepsi Literasi.” Ia menjelaskan bahwa literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis, melainkan juga melibatkan kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai bentuk teks. “Banyak yang masih mengira literasi hanya kemampuan membaca dan menulis. Padahal faktanya, literasi juga mencakup keterampilan menyimak, berbicara, memirsa, mempresentasikan, dan menampilkan. Literasi adalah kemampuan berpikir tentang teks multimoda dan menggunakan maknanya dalam kehidupan,” jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, Salsabila mengajukan pertanyaan seputar ketertarikan anak terhadap buku cerpen yang cenderung lebih tebal dibanding buku anak-anak umumnya. Adista menjawab, “Bisa jadi menarik, tergantung penyajiannya. Namun istilah cerpen bisa diganti dengan istilah yang lebih familiar, seperti cerita anak, agar lebih akrab dengan pembaca usia dini.” Sementara itu, Mabrur menyoroti isu penyebaran e-book yang dapat mengancam hak cipta penulis. Adista menegaskan, “Ada badan hukum yang melindungi hak penulis, tetapi pemahaman masyarakat Indonesia tentang hak cipta di dunia e-book masih perlu ditingkatkan.”
Kegiatan yang berlangsung hampir tiga jam ini tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa mengenai literasi dan riset, tetapi juga menumbuhkan kesadaran etis dalam praktik penelitian. Melalui forum ini, mahasiswa diajak untuk memaknai riset bukan sekadar tugas akademik, melainkan sebagai proses pencarian makna, refleksi diri, dan kontribusi ilmiah yang lahir dari hati.
Sebagai penutup, pembawa acara membacakan pantun:
Setiap kata yang kita tulis, merupakan jejak pikiran yang abadi.
Terima kasih sudah berbagi waktu manis, semoga risetmu lahir dengan hati, bukan dengan joki.
Tepuk tangan meriah menutup kegiatan yang sarat inspirasi tersebut. Melalui kegiatan “Membaca Literasi, Menulis Riset: Sinergi antara Kajian Literasi dan Literatur Reviu,” program studi Tadris Bahasa Indonesia meneguhkan komitmen untuk terus menumbuhkan budaya literasi akademik yang reflektif, jujur, dan bermakna.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa literasi dan riset bukanlah dua ranah yang terpisah. Keduanya justru saling melengkapi. Literasi memperdalam pemahaman, sementara riset memperkuat kebermanfaatan. Dari membaca yang tekun lahirlah penulisan yang jujur, dan dari penelitian yang sungguh-sungguh lahir ilmu yang mencerahkan.
Penulis: Fathan Rizki Efendi (Mahasiswa TBI)
