Adang Nazriel Kurnia Sampaikan Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din di Masjid Al-Rochili, Laweyan

KabarFAB – Ramadhan 1447 H/2026 M ini menjadi momentum istimewa bagi Adang Nazriel Kurnia, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta. Pada bulan suci Ramadhan ini, ia dipercaya menyampaikan kajian kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya ulama besar, Imam Abu Hamid al-Ghazali, dengan fokus pembahasan Asrâr al-Shawm (Rahasia Puasa) di Masjid Al-Rochili, Laweyan, Surakarta.

Adang Nazriel Kurnia masih duduk di semester IV dan dikenal sebagai akademisi muda sekaligus penghafal Al-Qur’an. Ia juga masih menempuh pendidikan pesantren di bawah bimbingan Dr. KH Ahmad Muhamad Mustain Nasoha di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah. Lingkungan pesantren tersebut turut membentuk keilmuannya, utamanya dalam bidang tasawuf.

Adang juga telah melahirkan karya ilmiah berbahasa Arab berjudul Jawahirul Qulub. Karya tersebut membahas ilmu tasawuf secara sistematis, mulai dari konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), maqamat (tahapan spiritual), hingga ahwal (kondisi batin). Saat ini, ia tengah menyelesaikan pengajian Faidhul Barokat fi Sab’il Qiroat (Qira’ah Sab’ah) di pesantren yang sama sebagai bentuk pendalaman ilmu Al-Qur’an.

Dalam kajian kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din tersebut, Adang Nazriel Kurnia mengajak umat memaknai Ramadhan sebagai perjalanan transformasi diri. Dia menekankan bahwa puasa, sebisa mungkin tidak hanya berhenti pada kewajiban fikih untuk menahan dari makan dan minum, melainkan juga menjadi sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia menjelaskan, dalam perspektif tasawuf Al-Ghazali, akar berbagai dosa bersumber dari dominasi hawa nafsu yang diperkuat oleh kenyang, syahwat, dan kelalaian. Puasa, karena itu, berfungsi melemahkan dorongan hewani agar cahaya hati (nur al-qalb) kembali bersinar.

Ia juga menguraikan tiga tingkatan puasa sebagaimana dijelaskan dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din. Pertama, puasa umum, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan biologis. Kedua, puasa khusus, yaitu menjaga seluruh anggota badan dari dosa (menahan pandangan dari yang haram, menjaga lisan dari dusta dan ghibah, serta menghindarkan pendengaran dari hal sia-sia). Ketiga, puasa khususil khusus, yakni puasa hati dari selain Allah, termasuk ambisi duniawi berlebihan, riya’, hasad, dan kelalaian batin.

Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia mendidik kita agar tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan kesombongan, kemarahan, dan kecintaan berlebihan pada dunia,” tuturnya.

Kajian kitab yang berlangsung selama Ramadhan tersebut mendapat respons positif dari jamaah. Pendekatan tasawuf yang disampaikan secara sistematis – mulai dari pembacaan teks Arab, penjelasan makna, hingga aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari – dinilai mampu memperdalam pemahaman tentang hakikat puasa serta relevansinya dalam membentuk karakter dan spiritualitas umat. Pengurus Masjid Al-Rochili juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi generasi muda dalam menghidupkan kembali tradisi kajian kitab klasik di tengah masyarakat perkotaan. Menurut mereka, kehadiran sosok muda yang mendalami turats menjadi angin segar dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan Islam.