Ketua Forum ADIA, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag.: Tantangan Era Digital dan Pentingnya Integrasi Ilmu

KabarFAB – Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 resmi dibuka di Hotel Syariah Solo. Acara yang mempertemukan para akademisi dan delegasi dari berbagai institusi ini berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juli 2025 dengan mengusung tema “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society.”

Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., Dekan Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang sekaligus Ketua Forum ADIA, menyampaikan rasa syukurnya atas pertemuan kesekian kalinya ini. Sebagai Ketua Asosiasi, Prof. Faisol mengapresiasi terselenggaranya Annual International Conference ADIA 2025 ini di Surakarta.

Prof. Faisol berharap forum ini menjadi wadah untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang belakangan ini menjadi kegelisahan bersama, terutama dalam dunia pendidikan yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) menjadi pertanda tantangan baru di era kemajuan digital.

Ia menyoroti hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kemajuan digital telah melahirkan tiga bentuk distopia: Distopia Sosial Ekonomi yang menciptakan ketimpangan baru, Distopia Ideologis yang membuat sulit membedakan fakta aktual di media sosial dan memunculkan pemikiran keagamaan ekstrem karena kebiasaan “berguru pada Google,” serta Distopia Totaliter di mana nilai kemanusiaan bisa menjadi nihil.

Prof. Faisol merasakan dampak ini dalam mengajar, di mana hanya 13% mahasiswanya menyukai presentasi PowerPoint, sisanya lebih memilih media interaktif. Fakta ini mendorongnya untuk mendefinisikan ulang kompetensi seorang dosen, dengan menyatakan, “The Lecture Is Dead,” yang berarti peran dosen tidak lagi sekadar mentransfer ilmu, melainkan harus jauh lebih kompleks.

Fenomena ini, menurutnya, harus disadari bersama, dan ADIA adalah forum yang tepat untuk mendiskusikan serta memengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada. Ia juga mencontohkan perguruan tinggi di luar negeri yang menutup program studi bahasanya karena adanya kacamata berteknologi AI sebagai penerjemah, sebuah kegelisahan yang patut direnungkan bagi asosiasi ADIA yang fokus pada ilmu-ilmu sosial.

Meskipun demikian, Prof. Faisol optimistis bahwa ilmu sosial humaniora masih memiliki peluang besar karena dimensi kemanusiaan tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin. Namun, ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menghadapi kemajuan ini, etika sebagai pengguna AI, dan perlunya kebijakan baru terkait penggunaan AI oleh mahasiswa. Ia menekankan pentingnya merumuskan strategi agar eksistensi ilmu sosial humaniora tetap relevan.

Di akhir sambutannya, Prof. Faisol menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh panitia lokal atas usaha dan upaya yang telah dilakukan sejak Februari lalu, berharap segala upaya tersebut menjadi pintu keberkahan.