KabarFAB – Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 resmi dibuka di Hotel Syariah Solo. Acara yang mempertemukan para akademisi dan delegasi dari berbagai institusi ini berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juli 2025 dengan mengusung tema “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society.”

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd., Dekan Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta selaku tuan rumah, menyampaikan terima kasih kepada seluruh hadirin. Beliau mengakui bahwa perencanaan acara ini sempat diwarnai keraguan, bahkan beberapa dekan khawatir mengenai anggaran. Namun, keyakinan untuk menyelenggarakan acara di Surakarta akhirnya menguat, dan beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota forum ADIA yang telah berkomitmen untuk hadir.
Konferensi ini dilaksanakan dengan skema campuran (blended), menggabungkan sesi daring dan luring. Meskipun sempat diragukan, ADIA Annual International Conference 2025 ini berjalan sangat baik dengan partisipasi sebanyak 99 makalah dari 22 institusi dan 109 peserta. Makalah-makalah tersebut terbagi dalam tiga kategori utama: 30 artikel untuk Sejarah dan Budaya, 40 artikel untuk Bahasa dan Sastra, serta 29 artikel untuk Perpustakaan dan Informasi.
Prof. Imam menekankan pentingnya silaturahmi dan penggunaan forum ini untuk kepentingan bersama ADIA. Mewakili panitia, Prof. Imam menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan berharap seluruh hadirin dapat membawa pulang kesan baik dari Surakarta.
Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., Dekan Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang sekaligus Ketua Forum ADIA, menyampaikan rasa syukurnya atas pertemuan kesekian kalinya ini. Sebagai Ketua Asosiasi, Prof. Faisol mengapresiasi terselenggaranya Annual International Conference ADIA 2025 ini di Surakarta.
Prof. Faisol berharap forum ini menjadi wadah untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang belakangan ini menjadi kegelisahan bersama, terutama dalam dunia pendidikan yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) menjadi pertanda tantangan baru di era kemajuan digital.
Ia menyoroti hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kemajuan digital telah melahirkan tiga bentuk distopia: Distopia Sosial Ekonomi yang menciptakan ketimpangan baru, Distopia Ideologis yang membuat sulit membedakan fakta aktual di media sosial dan memunculkan pemikiran keagamaan ekstrem karena kebiasaan “berguru pada Google,” serta Distopia Totaliter di mana nilai kemanusiaan bisa menjadi nihil.
Prof. Faisol merasakan dampak ini dalam mengajar, di mana hanya 13% mahasiswanya menyukai presentasi PowerPoint, sisanya lebih memilih media interaktif. Fakta ini mendorongnya untuk mendefinisikan ulang kompetensi seorang dosen, dengan menyatakan, “The Lecture Is Dead,” yang berarti peran dosen tidak lagi sekadar mentransfer ilmu, melainkan harus jauh lebih kompleks.
Fenomena ini, menurutnya, harus disadari bersama, dan ADIA adalah forum yang tepat untuk mendiskusikan serta memengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada. Ia juga mencontohkan perguruan tinggi di luar negeri yang menutup program studi bahasanya karena adanya kacamata berteknologi AI sebagai penerjemah, sebuah kegelisahan yang patut direnungkan bagi asosiasi ADIA yang fokus pada ilmu-ilmu sosial.
Meskipun demikian, Prof. Faisol optimistis bahwa ilmu sosial humaniora masih memiliki peluang besar karena dimensi kemanusiaan tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin. Namun, ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menghadapi kemajuan ini, etika sebagai pengguna AI, dan perlunya kebijakan baru terkait penggunaan AI oleh mahasiswa. Ia menekankan pentingnya merumuskan strategi agar eksistensi ilmu sosial humaniora tetap relevan.
Di akhir sambutannya, Prof. Faisol menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh panitia lokal atas usaha dan upaya yang telah dilakukan sejak Februari lalu, berharap segala upaya tersebut menjadi pintu keberkahan.
Prof. Dr. Suyitno, M.Ag., Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama R.I., menyampaikan harapan besar agar acara ini tidak hanya produktif, tetapi juga memberikan manfaat yang luas bagi seluruh anggota forum ADIA, kajian keilmuan, umat, dan bangsa.
ADIA, sebagai forum yang berfokus pada Sosial Humaniora, menghadapi tantangan yang kompleks dan beragam di masa kini, sehingga diperlukan upaya adaptasi, inovasi, dan kemampuan membaca tantangan. Permasalahan saat ini tidak hanya terbatas pada ilmu sosial itu sendiri, tetapi juga mencakup seluruh aspek kemanusiaan, yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun isu yang berdiri sendiri.
Sebagai contoh, ia menyoroti isu politik global terkini, seperti kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat. Meskipun terkesan sebagai urusan ekonomi semata, kebijakan tersebut memiliki dampak multidimensional pada pendidikan, kehidupan kampus, bahkan isu-isu kemanusiaan. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun persoalan, termasuk dalam ranah keilmuan, yang dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, momentum kajian integrasi ilmu menjadi semakin relevan.
Integrasi ilmu yang menggabungkan sains, teknik, rekayasa, dan matematika menunjukkan betapa dunia kini memastikan terjadinya keterpaduan ilmu. Jika kajian ADIA berdiri sendiri, penyelesaian masalah tidak akan tuntas. Untuk itu, ia mendorong paralelisme kajian di ADIA dengan mengundang para pakar dari berbagai disiplin ilmu agar isu-isu tertentu dapat dibedah dari berbagai aspeknya.
Contoh konkret dari upaya integrasi ini adalah re-branding AICIS (Annual International Conference on Islamic Studies) pada tahun 2025 menjadi Annual International Conference on Islam, Science, and Society. Perubahan ini bertujuan untuk menghadirkan kajian Studi Islam yang bersentuhan dengan berbagai sisi lain, termasuk sosial humaniora yang tak terpisahkan dari kajian keislaman itu sendiri. Ini sejalan dengan upaya integrasi ilmu yang selama ini diusung, dengan memadukan berbagai pendekatan keilmuan, termasuk pendekatan ulumuddin yang menjadi dasar pengetahuan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Prof. Suyitno menegaskan bahwa meskipun ada ilmu dakwah, Ushuluddin, dan Syariah sebagai ilmu dasar di PTKIN, upaya integrasi yang sungguh-sungguh sangatlah penting agar integrasi tidak hanya menjadi slogan semata. Sudah saatnya kajian-kajian sains di PTKIN diberikan panggung, dan ilmu-ilmu sosial berbicara tentang isu-isu lokal dan global dalam mengatasi permasalahan saat ini. Kita tidak bisa lagi terpaku pada urusan internal, karena akan terus bersentuhan dengan bidang-bidang lain.
Ia juga menyoroti bagaimana generasi saat ini sangat familiar dengan dunia digital, terutama Generasi X. Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Namun, disayangkan bahwa media sosial belum dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan edukatif, termasuk untuk mendukung pengembangan keilmuan. Hal ini menjadi tantangan bersama yang harus diubah, termasuk dalam pengelolaan berbagai platform media sosial oleh bidang-bidang ilmu, mengingat sebagian besar masyarakat bersentuhan dengan media sosial.
Selain itu, masalah serius lainnya adalah distruksi tata dunia kerja. Sekitar 78 persen pekerjaan yang selama ini dilakukan secara fisik akan beralih ditangani oleh mesin, robot, dan kecerdasan buatan. Fakultas yang berfokus pada sosial humaniora harus mulai memikirkan bagaimana mahasiswa dapat bertahan di tengah pergeseran pangsa kerja ini. Tidak cukup hanya berbicara tentang kepentingan akademik semata, tetapi juga harus memikirkan luaran dan peluang kerja bagi lulusan.
Kampus diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi terhadap kebutuhan pasar bagi para alumni. Kampus bukanlah “pabrik” yang berdiri sendiri tanpa memikirkan pangsa pasar, atau “menara gading” yang terpisah dari realitas. Sebaliknya, kampus harus menjadi “pabrik” yang bertanggung jawab terhadap produk-produk yang dihasilkan. Seringkali, konferensi tahunan hanya memuaskan diri sendiri dalam diskusi, serupa dengan praktik selama ini.
Penting juga untuk tidak melupakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), yang merupakan bagian krusial dari tugas kampus. PKM tidak hanya dimaknai secara sederhana, tetapi juga sebagai upaya memastikan peran akademisi dapat lahir secara terstruktur dan sistematis, serta memberikan solusi terhadap permasalahan kebangsaan dan keumatan.
Tantangan terkini yang tidak kalah penting dan sejalan dengan status kita adalah program SDM Unggul. Presiden telah mencanangkan pendidikan unggul. Jika dilihat dari Global Talent Competitiveness, Indonesia masih harus berjuang keras dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara, dengan peringkat yang masih memprihatinkan dan jauh di bawah Singapura. Hal ini sejalan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pertanyaannya bagi para akademisi dan dosen adalah bagaimana kita dapat meningkatkan IPM nasional.
Prof. Suyitno berulang kali mengingatkan bahwa meskipun sudah ada puluhan rekomendasi yang dihasilkan dari berbagai konferensi, pertanyaannya adalah apakah rekomendasi saja sudah cukup untuk mengatasi tantangan yang ada.
Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., dalam sambutannya menyatakan bahwa tema ADIA Annual International Conference 2025 kali ini, “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society,” sangat relevan untuk konteks dunia global saat ini. Manusia terlahir dengan beragam perbedaan dan keunikan individual, bahkan sidik jari dan DNA setiap orang pun berbeda. Inilah fitrah manusia.
Di tengah perbedaan individual tersebut, budaya juga lahir dengan keunikannya masing-masing. Setiap budaya dan tradisi masyarakat akan selalu berbeda, tergantung bagaimana masyarakat itu mengembangkannya. Di tengah perbedaan budaya dan tradisi itu, kita dituntut untuk menjaga agar budaya dan tradisi yang kita miliki tetap bertahan dan eksis, terutama saat teknologi digital berkembang pesat.
Ketahanan budaya suatu masyarakat menjadi penting karena ia adalah identitas yang membedakan dengan budaya lainnya. Apalah artinya suatu masyarakat memiliki kemampuan digital yang canggih apabila budaya dan tradisinya hilang dan tidak lagi menjadi identitasnya.
Beliau menyatakan bahwa perkembangan literasi digital yang terus berkembang saat ini seharusnya mendorong kita untuk sadar akan budaya dan tradisi yang kita miliki untuk dipertahankan. Kecerdasan Buatan (AI) tentu saja berkembang secara masif dan pesat, tetapi bagaimana budaya dan tradisi masyarakat kita terus hidup menjadi landasan yang kuat bagi dinamika perkembangan AI. Jangan sampai AI kemudian menjadikan kita tidak beridentitas karena kehilangan budaya dan tradisi.
Databoks menyampaikan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengidentifikasi serta mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks, berita bohong, atau informasi palsu sepanjang tahun 2024. Tentu ini bukanlah budaya dan tradisi kita. Untuk itu, literasi digital dengan empat pilarnya, yaitu kecakapan digital (digital skills), keamanan digital (digital safety), budaya digital (digital culture), dan etika digital (digital ethics), seharusnya menjadi fondasi bagi kita untuk berselancar di dunia digital, termasuk AI, dengan tetap berbudaya dan bertradisi, sehingga kemanusiaan kita tetap terjaga dan terus dijaga.
Di akhir sambutannya, beliau menyatakan selamat berkonferensi, semoga sukses dan mampu menghadirkan rekomendasi ilmiah yang berdampak bagi kebijakan publik.
Pada kesempatan yang sama juga dibacakan hasil lomba ADIA International Festival 2025. Berikut adalah hasil dari ADIA International Festival 2025.
JUARA LOMBA LKTI
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Imelda Wigati Dan Faaza An Najwa | Juara I | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 2 | Muhammad Nur Dan Nur Latifatul Qalbi | Juara II | UIN Maulana Malik Ibrahim |
| 3 | Tubagus Naufal Ramadhan Dan Azka Ubaidillah | Juara III | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
| 4 | 1. Laelah Ramadhani 2. Siska Restu Purbaya | Harapan I | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 5 | Agil Saputra, Muhammad Rizky Dan Adel Al Qadar | Harapan II | UIN Imam Bonjol Padang |
| 6 | Aisyah Nabilah Azhaar, Fina Ochtavia Ramadhani, Bunayya Nisa Razka Fadila | Harapan III | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 7 | Asiffa Dwi Rahmat Diyanti Dan Nisrina Nida Salma | Best Social Impact | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 8 | Zikri Akbar, Ayu Andira, Syahrul Khadri | Best Structure | UIN Imam Bonjol Padang |
JUARA LOMBA PUISI ARAB
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Nawal Fatin | Juara I | UIN Maulana Malik Ibrahim |
| 2 | Lukman Hakim El- Hakiem | Juara II | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 3 | Berlian Alfin Lubis | Juara III | UIN Imam Bonjol Padang |
| 4 | Muhammad Hanif Ariz | Harapan I | UIN Maulana Malik Ibrahim |
| 5 | Az-zahraturrima | Harapan II | UIN Ar-Raniry Aceh |
JUARA LOMBA PUISI BAHASA INGGRIS
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Laiva Damayanti | Juara I | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 2 | M.Rezky Ihsan | Juara II | UIN Imam Bonjol Padang |
| 3 | Syita Fitryadesy | Juara III | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 4 | Aldifa Apridita Indiarta Marta Tinaya | Harapan I | Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta |
JUARA LOMBA PUISI BAHASA INDONESIA
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Danilah Ali Firdausiyah | Juara I | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 2 | Elmira Damayanti | Juara II | PP.Annuqayah Lubangsa Putri, Madura |
| 3 | Husnul Hasanah | Juara III | UIN Imam Bonjol Padang |
| 4 | Meta Ananda | Harapan I | UIN Raden Fatah Palembang |
| 5 | Tri Hidayah Aisyah | Harapan II | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 6 | Jovita Dara Yuda | Harapan III | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 7 | Iffah Putri Lestari | Most Powerful Reading | UIN Raden Fatah Palembang |
| 8 | Ngafiatul Fauziah | Most Expressive | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
JUARA BACA BERITA ARAB
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Risya Sabrina Indira | Juara I | UIN Imam Bonjol Padang |
| 2 | Mar Atus Sholeha | Juara II | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 3 | Raisa Nabila Rahmani | Juara III | UIN Raden Fatah Palembang |
JUARA LOMBA BACA BERITA BAHASA INGGRIS
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Luthfina Cahyani Shintadewi | Juara I | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 2 | Dina Rinjani | Juara II | Unmuh PKU Surakarta |
| 3 | Ambar Insanul Isti’anah | Juara III | UIN Raden Fatah Palembang |
| 4 | Rizka Nur Widya | Harapan I | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 5 | Siska Dwiyani | Harapan II | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 6 | Foursa Tasniim | Harapan III | UIN Imam Bonjol Padang |
| 7 | Solikha Nur Dzulfiani | Best News Video | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 8 | Naimatul Mufida | Best Articulation | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
JUARA LOMBA STORYTELLING BHS ARAB
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Marsa Rizal Putri | Juara I | UIN Imam Bonjol Padang |
| 2 | Silmi Abidah Kamiliya | Juara II | PP.Annuqayah lubangsa putri Madura |
| 3 | Iffah Putri Lestari | Juara III | UIN Raden Fatah Palembang |
| 4 | Hilmatusshaima Nur Afwany | Harapan I | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 5 | Moh. Khairil Yani Hasbi | Harapan II | Universitas Annuqayah Madura |
| 6 | Virna Anggraini | Harapan III | UIN Raden Fatah Palembang |
JUARA LOMBA STORYTELLING BAHASA INGGRIS
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Nur Rosyidah | Juara I | UIN Sunan Ampel Surabaya |
| 2 | Aisyah Nurfitriyani | Juara II | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 3 | Dede Asnazela | Juara III | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 4 | Linda Ofrasi | Harapan I | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 5 | Winda Dwika Putri Hasibuan | Harapan II | UIN Imam Bonjol Padang |
| 6 | Farhama Nursyifa Jumain | Harapan III | Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji (UIN AMSA AMBON) |
| 7 | Siti Rohmatin | Best Setting | PP.Annuqayah Lubangsa Putri Madura |
| 8 | Salsabila Raudha | Best Costume | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
JUARA LOMBA PIDATO BAHASA ARAB
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Muslimah Salsabila Ahmad | Juara I | Markaz Arabiyyah Pare |
| 2 | Nasrudin Rafa’i | Juara II | UIN Maulana Malik Ibrahim |
| 3 | Nafisatul Khalidah | Juara III | PP.Annuqayah lubangsa putri, Madura |
| 4 | Munif Muhammad Hatim | Harapan I | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 5 | Ahmad Zulfa | Harapan II | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 6 | Silmi Lailatil Fajri | Harapan III | UIN Imam Bonjol Padang |
| 7 | Muhammad Syahrul Hidayat | Best Costume | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
| 8 | Alifa Nurul Fajri | Best articulation | UIN Salatiga |
JUARA LOMBA PIDATO BAHASA INGGRIS
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Zahara Tsabilla Ikhrima | Juara I | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |
| 2 | Shaqinah Quraniah | Juara II | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 3 | Syifa Talitha Almira | Juara III | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 4 | Muhamad Hafidz Ar-Rizki | Harapan I | UIN Imam Bonjol Padang |
| 5 | Sofi Mayla Firdaus | Harapan II | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 6 | Hasna Aliya | Harapan III | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |
| 7 | Reyhan Rahmat Ilahi | Best Articulation | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 8 | Feren Legita Pramudya Wardani | Best Intonation | UIN Raden Mas Said Surakarta |
JUARA LOMBA RESENSI BUKU
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Sesa Erin Juniartaty, Waviyul Azizah, Arsheila Rindang Soleha | Juara I | UIN Raden Fatah Palembang |
| 2 | Abdul Hadi, Sidah Asiah, Msy. Nur Zahara Anggraini | Juara II | UIN Raden Fatah Palembang |
| 3 | Moh. Fadllurrahman | Juara III | Universitas PTIQ Jakarta |
| 4 | Shilna Ila Salsabila | Harapan I | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
| 5 | Alwardatun Niswah | Harapan II | UIN Imam Bonjol Padang |
| 6 | Cindri Laras | Harapan III | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
| 7 | Farida Novita Rahmah | Most Elaborative | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |
JUARA LOMBA POSTER
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Muthi’ah Nurul Jannah | Juara I | Unimuh PKU Surakarta |
| 2 | Avissina Asqolani | Juara II | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 3 | Muhammad Akhdan Arif Al’Azzam | Juara III | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
| 4 | Media HMPS (UIN SKA) | Harapan I | UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |
| 5 | Zaenal Abidin | Harapan II | UIN Maulana Malik Ibrahim |
| 6 | Sity Sa’dun Bin Saleh | Harapan III | Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji (UIN AMSA AMBON) |
| 7 | Renaldi Yonra Febriansyah | Most Culture | UIN Imam Bonjol Padang |
| 8 | Raisa Nabila Rahmani | Most Elaborative | UIN Raden Fatah Palembang |
JUARA LOMBA KOMIK MODERASI
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Aisyah Nur Alifah | Juara I | UIN Raden Fatah Palembang |
| 2 | Nadhira Nurul Izzah | Juara II | UIN Imam Bonjol Padang |
| 3 | Wahyu Catur Setiawan dan Khasnah Fadila | Juara III | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
JUARA LOMBA VLOG
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Reza Rifky Rachmawan, Dwi Rosita Ramadani | Juara I | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
| 2 | Yustisia Candra, Artiya Anugrawati, Zulfa Aulia, Ananda Zuhud, Ahmad Abdul Karim | Juara II | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 3 | Muhammad Husain Akbar | Juara III | UIN Maulana Malik Ibrahim |
| 4 | Almira Sashih Aprillia Putri S | Harapan I | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 5 | Justang | Harapan II | UIN Raden Fatah Palembang |
| 6 | Nayes Pritania | Harapan III | UIN Imam Bonjol Padang |
| 7 | Mas’ul Asysyifa Margiana | Most Engaging | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
| 8 | Amelia Putri Astuti | Most Relatable | Unmuh PKU Surakarta |
JUARA LOMBA DUBBING BAHASA ARAB
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Ummu Kultsum Naviza | Juara I | UIN Maulana Malik Ibrahim |
| 2 | Ririn Agustin | Juara II | UIN Raden Fatah Palembang |
| 3 | Restu Rahmanda | Juara III | UIN Imam bonjol Padang |
| 4 | Khansa’ Hafizhah | Harapan I | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 5 | Yohana Novitasari | Harapan II | UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto |
JUARA LOMBA DUBBING BHS INGGRIS
| NO. | NAMA | JUARA | INSTITUSI |
| 1 | Syareefah Anissa Al Baragbah | Juara I | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 2 | Syaikha Zakira Denila | Juara II | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 3 | Vivi Ferryana | Juara III | UIN Raden Mas Said Surakarta |
| 4 | Sabrina Zaliana Putri | Harapan I | UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi |
| 5 | Siti Masyithah | Harapan II | UIN Imam Bonjol Padang |
| 6 | Diana Mailikhah | Harapan III | Unmuh PKU Surakarta |
