KabarFAB – Sebagai wujud komitmen dalam pengembangan keilmuan, Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta, yang juga merupakan salah satu komisariat Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN), telah mengirimkan dua dosennya untuk berpartisipasi dalam Konferensi Internasional Kesusastraan ke-34. Acara ini diselenggarakan oleh HISKI Pusat bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur pada 10–12 Oktober 2025.



Konferensi yang mengusung tema “Sastra dan Aktivisme Sosial” ini menghadirkan tujuh pembicara dari dalam dan luar negeri untuk membahas dinamika sastra sebagai medium refleksi dan agen perubahan sosial. Dalam forum internasional tersebut, dua dosen dari Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, yaitu Dr. Sri Lestari, M.Pd. dan Ika Martanti Mulyawati, M.Pd., turut memberikan kontribusi aktif dengan mempresentasikan hasil penelitian mereka.
Selain berpartisipasi dalam forum ilmiah, kedua dosen tersebut juga mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) HISKI 2025. Forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat organisasi HISKI di tingkat nasional. Beberapa agenda penting yang dibahas meliputi laporan kegiatan, masukan dari dewan pakar dan dewan etik untuk pengembangan organisasi, serta inisiasi pembentukan pusat riset HISKI.
Lebih lanjut, rakornas juga merumuskan rencana perancangan konsorsium, pengembangan model penelitian, pengelolaan hak kekayaan intelektual (KI), hingga strategi perluasan peran HISKI di tengah masyarakat melalui program HISKI Masuk Sekolah dan publikasi artikel ilmiah di media massa.
Partisipasi aktif Program Studi Tadris Bahasa Indonesia dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik di bidang kesusastraan sekaligus meningkatkan reputasi lembaga di kancah nasional dan internasional. Keterlibatan para dosen dalam forum ilmiah dan rapat koordinasi strategis ini menjadi momentum penting untuk menciptakan sinergi antara akademisi, peneliti, dan praktisi sastra.
Pada akhirnya, kontribusi ini menegaskan kembali peran penting sastra sebagai sarana transformasi sosial dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan yang relevan dengan tantangan masyarakat modern.
