KabarFAB – Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta menggelar Dialog Budaya Benteng Kartasura bertema “Pelestarian, Edukasi, dan Pariwisata” di Aula Yosodipuro lantai 4 pada 28 Oktober 2025. Kegiatan ini dihadiri sekitar 200 mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam dan menghadirkan tiga narasumber utama, yakni KPH. Drs. Daradjadi Gondodiprojo, KGPH. Puger, serta Muh. Aprianto, M.A.








Acara tersebut sekaligus menjadi momentum penting bagi fakultas dengan diresmikannya Pusat Studi Mataram Islam (Center for Mataram Studies) sebagai wadah riset dan pengembangan kebudayaan Islam Nusantara, khususnya yang berakar pada peradaban Mataram Islam.
Dalam sambutan pembukaan, Dekan Fakultas Adab dan Bahasa, Prof. Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, dosen, mahasiswa, serta tim inisiator yang telah berupaya mewujudkan berdirinya pusat studi tersebut. Pembentukan lembaga ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi pengkajian sejarah, sastra, bahasa, manuskrip, arsitektur, serta pemikiran keagamaan yang berkembang pada masa Mataram Islam.
Benteng Kartasura menjadi salah satu fokus utama dialog budaya kali ini. Situs bersejarah yang terletak di Kabupaten Sukoharjo itu merupakan peninggalan penting dari masa Kerajaan Mataram Islam, yang pada abad ke-17 memindahkan pusat pemerintahannya dari Plered ke Kartasura. Dibangun pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono I atau Amangkurat II sekitar tahun 1680 M, benteng ini menyimpan kisah panjang tentang dinamika politik dan sosial yang akhirnya mengantarkan Mataram ke era Surakarta dan Yogyakarta.
Saat ini, Benteng Kartasura tengah mengalami proses pemugaran. Batu-batu bata lama yang rusak telah diganti dengan material baru yang dibuat menyerupai aslinya agar struktur benteng kembali kokoh. Upaya ini bukan hanya perawatan fisik, tetapi juga langkah pelestarian nilai sejarah dan budaya yang melekat pada bangunan tersebut.
Dekan menegaskan bahwa peninggalan seperti Benteng Kartasura bukan sekadar susunan bata dan tanah liat, melainkan saksi bisu perjalanan peradaban. Melalui pendekatan ilmiah, peninggalan sejarah dapat menjadi sumber pengetahuan yang menggambarkan identitas budaya sekaligus arah perkembangan kebudayaan masa kini.
Selain itu, masyarakat sekitar masih menjaga berbagai kisah lokal yang melekat pada situs tersebut, seperti adanya lubang bekas tembakan meriam di bagian utara benteng yang diyakini sebagai jejak pertempuran masa lampau. Cerita-cerita rakyat ini menjadi bukti bahwa sejarah lokal masih hidup di tengah masyarakat dan perlu terus dikaji secara ilmiah.
Pendirian Pusat Studi Mataram Islam menjadi langkah konkret UIN Raden Mas Said Surakarta dalam menghidupkan kembali nilai-nilai peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui pusat studi ini, fakultas berkomitmen untuk mendorong riset, publikasi ilmiah, serta inovasi yang tidak hanya menghidupkan ingatan sejarah, tetapi juga memberikan inspirasi bagi perkembangan ilmu dan budaya di masa depan.
