Plenary Session 1 The 3rd International Conference on Culture and Language (ICCL)

KabarFAB – Dalam rangka menyemarakkan Dies Natalis ke-33 Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, Fakultas Adab dan Bahasa kembali menyelenggarakan forum internasional dengan nama The 3rd International Conference on Culture and Language (ICCL). Konferensi yang berlangsung pada Rabu – Kamis, 3-4 September 2025 di Hotel Syariah Surakarta ini mengusung tema “Innovating Knowledge through Language and Culture: Interdisciplinary Pathways for Global Understanding” dan dihadiri sekitar 150 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, serta mahasiswa dari dalam dan luar negeri.

Setelah sesi pembukaan, forum dilanjutkan dengan presentasi panel para narasumber dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, yakni:  Assoc. Prof. Dr. Azmi Abdul Latiff, Assoc. Prof. Dr. Sazuliana Sanif, dan Assoc. Prof. Dr. Fazelah Mohd Noor. Sesi ini dimoderatori oleh Elita Ulfiana, S.S., M.A., Koordinator Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta.

Assoc. Prof. Dr. Azmi Abdul Latiff membuka sesi dengan permintaan maaf karena tidak dapat hadir secara langsung dalam acara ini karena situasi kondisi di Indonesia. Beliau kemugian memulai paparan mengenai humor dalam pengajaran bahasa. Ia menjelaskan bahwa humor bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah strategi pedagogis yang mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman, menurunkan kecemasan siswa (lowering affective filter), dan meningkatkan keberanian mereka dalam berkomunikasi.

Namun, Azmi mengingatkan bahwa humor juga memiliki dimensi kultural. Apa yang dianggap lucu di Malaysia bisa saja ditafsirkan sebagai penghinaan di negara lain. Contohnya, gurauan tentang fisik (body teasing joke) yang lazim di Malaysia justru dianggap body shaming di Jepang atau Amerika. Oleh karenanya beliau mengingatkan, guru perlu berhati-hati dan memiliki kesadaran antarbudaya saat menggunakan humor di dalam kelas, khususnya dalam konteks internasional atau komunikasi multikultural.

Mengacu pada teori humor klasik seperti Superiority Theory, Incongruity Theory, serta gagasan Martin tentang self-defeating dan self-enhancing humor, Azmi menegaskan bahwa humor mampu memperkuat kedekatan sosial guru–siswa sekaligus membangun kompetensi lintas budaya. “Humor adalah cermin budaya,” ujarnya, “dan ketika digunakan dengan bijak, ia menjadi sarana untuk belajar menghargai perbedaan.”

Presentasi kedua disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Sazuliana Sanif yang menyoroti pentingnya Continuous Professional Development (CPD) bagi guru dalam perspektif bahasa, kesantunan, dan budaya. Menurutnya, pengembangan profesional tidak boleh hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi harus mencakup refleksi kritis terhadap bahasa yang digunakan guru dalam interaksi sehari-hari.

Melalui analisis percakapan kelas, Sazuliana menunjukkan bagaimana pilihan kata, intonasi, dan kebiasaan berbahasa mencerminkan identitas, nilai budaya, bahkan relasi kuasa antara guru dan siswa. Ia juga menekankan peran teknologi digital sebagai sarana refleksi—misalnya dengan merekam praktik mengajar, menggunakan corpus linguistics untuk meneliti kebiasaan bahasa guru, hingga memanfaatkan memes sebagai ekspresi pengalaman belajar siswa.

Lebih jauh, Sazuliana memperkenalkan konsep komunitas diskursus (discourse community) di kalangan guru dan peneliti, yang dapat memperkuat jejaring profesional dan mendorong terciptanya praktik pengajaran yang lebih humanis. Dengan demikian, CPD bukan hanya pengembangan keterampilan, tetapi juga sarana membangun kesadaran kultural dalam pendidikan.

Assoc. Prof. Dr. Fazelah Mohd Noor sebagai presenter ketiga melengkapi sesi dengan kajian tentang digitalisasi Zapin, sebuah seni tari tradisional Melayu yang berakar dari interaksi Arab-Melayu sejak abad ke-15. Menurutnya, Zapin tidak sekadar hiburan, tetapi juga medium nilai—menampilkan kesantunan, kedisiplinan, kebersamaan, serta nuansa religius dalam setiap gerak dan alunan musiknya.

Fazelah meneliti bagaimana Zapin dipersepsikan oleh mahasiswa internasional dari Asia, Timur Tengah, hingga Afrika, baik melalui tayangan digital (YouTube) maupun pertunjukan langsung di Johor. Hasilnya beragam: sebagian menilai kostumnya indah dan sopan, gerakannya kompak, dan musiknya menyentuh, namun ada pula yang menafsirkan simbol-simbol religius secara berbeda. Hal ini menunjukkan adanya dialog antarbudaya sekaligus tantangan antara otentisitas dan aksesibilitas dalam digitalisasi seni tradisional. Dengan pendekatan multimodalitas dan modal sosial, Fazelah menegaskan bahwa digitalisasi Zapin membuka jalan bagi pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat diplomasi kultural Malaysia di kancah global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh menghilangkan esensi dan nilai asli seni tradisi tersebut.