Langkah Hening, Jejak Merdeka: Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Raih Juara 2 LKTI Nasional

Maimunah Atika, Ika Yulianti & Jacinda Zahra Guswanto

Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Bagi mereka, diam bukan berarti pasif. Dalam senyap, ada kesadaran baru: menjaga tradisi adalah bentuk tertinggi dari kebebasan yang sadar.

KabarFABMalam perlahan turun di langit Surakarta, Kamis 26 Juni 2025. Di halaman Pura Mangkunegaran, suasana berubah menjadi hening dan sakral. Obor-obor menyala, menerangi wajah-wajah penuh khidmat yang berjalan dengan tertib. Di antara barisan abdi dalem dan pusaka keraton, tampak barisan anak-anak muda mengenakan beskap, jarik, blangkon, dan kebaya. Mereka bukan sekadar peserta kirab, tetapi juga generasi penerus yang menyusuri lorong waktu dengan langkah hening penuh makna.

Bagi tiga mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, Maimunah Atika, Ika Yulianti, dan Jacinda Zahra Guswanto malam itu menjadi pengalaman yang melahirkan refleksi mendalam. Dari keheningan kirab, lahirlah gagasan yang mereka tuangkan dalam karya ilmiah berjudul “Langkah Hening, Jejak Merdeka: Generasi Muda dalam Kirab 1 Sura Mangkunegaran sebagai Upaya Memupuk Nasionalisme Lewat Budaya.

Karya itu yang kemudian mengantarkan mereka untuk meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional pada tanggal 10-20 Agustus 2025 yang diselenggarakan oleh Penerbit Marjinal Yogyakarta. Pada tulisan mereka, para mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam angkatan 2023 ini menegaskan bahwa nasionalisme tidak selalu lahir dari orasi lantang atau simbol politik. Kadang, ia hadir dalam langkah-langkah senyap di jalanan keraton.

Kirab 1 Sura Mangkunegaran, yang setiap tahun menandai pergantian penanggalan Jawa, menjadi arena belajar bagi generasi muda. “Kami melihat bagaimana anak-anak muda bukan sekadar pelengkap. Mereka hadir sebagai pelaku utama—membawa pusaka, mendokumentasikan prosesi, hingga menyebarkan semangat tradisi lewat media sosial,” ungkap Maimunah Atika.

Bagi mereka, diam bukan berarti pasif. Dalam senyap, ada kesadaran baru: menjaga tradisi adalah bentuk tertinggi dari kebebasan yang sadar.

Tulisan “Langkah Hening, Jejak Merdeka” ini juga menyatakan bahwa Kirab 1 Sura bukan hanya seremoni, namun juga perjalanan spiritual, sejarah, dan sosial. Generasi muda belajar disiplin, memahami filosofi Jawa “sepi ing pamrih, rame ing gawe,” sekaligus menghidupkan kembali warisan budaya agar tidak tergerus globalisasi.

Mereka memberikan penekanan bahwa kemerdekaan di era modern tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, akan tetapi juga dari keterasingan budaya. “Memilih untuk hadir dalam kirab adalah bentuk melawan penjajahan baru. Sebuah pernyataan bahwa menjadi Indonesia berarti mencintai dan merawat warisan leluhur,” ujar Ika Yulianti.

Prestasi menjadi Juara 2 LKTI tingkat Nasional ini pun menjadi bukti mahasiswa saat ini pun mampu untuk menggabungkan kekuatan budaya dengan analisis ilmiah. “Mahasiswa kita tidak hanya berprestasi di ruang akademik, tetapi juga mampu menjadikan budaya sebagai sumber inspirasi ilmiah. Ini adalah bentuk nasionalisme baru—merawat tradisi sambil berkontribusi di dunia akademik,” kata salah satu dosen pembimbing.

Usai kirab dan lomba, ketiga mahasiswa itu tidak berhenti. Mereka berbagi pengalaman di media sosial, menulis refleksi, dan menyebarkan semangat bahwa cinta tanah air bisa lahir dari budaya. Kirab 1 Sura Mangkunegaran bagi mereka adalah pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu dari mana ia berasal. Dan karya ilmiah mereka adalah bukti bahwa tradisi bisa menjadi sumber inspirasi untuk melangkah ke masa depan. Dalam hening, mereka menorehkan jejak. Dalam langkah senyap itu pula, lahir nasionalisme yang baru: nasionalisme yang tumbuh dari budaya, hidup dalam tulisan, dan bergaung hingga tingkat nasional.