KabarFAB – Tim peneliti Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta kembali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) kedua dalam rangka penelitian bertajuk Rancang Bangun Standar Takarir Bahasa Jawa (Sakabawa). Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 10 April 2026 di Ruang Rapat Fakultas Adab dan Bahasa ini sebagai tindak lanjut dari FGD pertama yang membahas aspek keterbacaan takarir bahasa pada layar.


Pada FGD yang kedua ini, pembahasan difokuskan pada aspek aksara, khususnya terkait upaya standardisasi aksara Jawa dalam konteks media audiovisual. Diskusi mencakup berbagai komponen krusial, antara lain pemilihan jenis huruf (font), kaidah penggunaan warna, serta bentuk aksara yang sesuai untuk kebutuhan tampilan digital. FGD kedua ini juga menghadirkan Diaz Nawaksara, salah seorang aktivis dan pegiat aksara Nusantara, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya mempertimbangkan aspek teknis perangkat (device) serta karakter visual aksara dalam proses perumusan standar. Hal ini dinilai penting agar aksara Jawa tetap memiliki tingkat keterbacaan yang optimal di berbagai platform digital.
Dari hasil diskusi ini disimpulkan bahwa faktor perangkat (device) memiliki pengaruh signifikan terhadap implementasi aksara Jawa dalam produk audiovisual, khususnya terkait kompatibilitas sistem. Selain itu, FGD ini juga mengidentifikasi karakteristik font aksara Jawa yang dinilai paling representatif untuk tampilan layar, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara aspek estetika dan keterbacaan.
Dari diskusi juga mencuat bahwa mengenai penggunaan warna, terutama untuk memastikan tingkat kontras dan visibilitas yang memadai agar takarir dapat diakses dengan mudah oleh audiens. Diskusi juga menegaskan bahwa kompleksitas kaidah dalam bahasa Jawa menuntut ketepatan dalam pemilihan paugeran sebagai acuan, termasuk dalam penentuan standar aksara guna menghindari ambiguitas dalam praktik penulisan takarir.
Selain itu, peserta FGD juga membahas mengenai peluang implementasi aksara Jawa dalam industri penyiaran, termasuk kemungkinan penggunaannya oleh stasiun televisi. Hal ini membuka ruang eksplorasi lebih lanjut terkait integrasi aksara lokal ke dalam media arus utama.
Sebagai tindak lanjut, FGD ini menghasilkan beberapa rekomendasi untuk FGD berikutnya, antara lain mengenai perlunya pengujian lintas perangkat serta simulasi implementasi pada produk audiovisual guna memperoleh standar yang lebih aplikatif dan adaptif.
Diharapkan melalui proses perumusan standar takarir bahasa Jawa (Sakabawa) ini dapat semakin komprehensif dengan mengintegrasikan aspek linguistik, visual, dan teknologis, sehingga mampu mendorong pemanfaatan aksara Jawa secara lebih luas dalam ekosistem media digital.
