KabarFAB – Tiga mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta berhasil lolos untuk mengikuti Seminar dan Workshop Sejarah Publik Internasional bertajuk “Menghadirkan Narasi Lokal dalam Sejarah Publik”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga pada 3-4 Juni 2026.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Almira Sashih Aprillia Putri Sugiyono, Safinatunnajah, dan Siti Amalitaturrodiyah Sy. Forum akademik ini mempertemukan para peneliti, akademisi, dan praktisi sejarah publik dari berbagai negara.
Di dalam forum tersebut, Safinatunnajah akan mempresentasikan penelitian berjudul “Revisiting the History of Islam in Banten: Tārīkh Sulṭanah Banten al-Islāmiyyah bi-Jazīrat Jāwā fī al-Jihah al-Gharbiyyah as a Narrative of Local History Decolonization from a Hadhrami Perspective”. Penelitian tersebut mengangkat pembacaan ulang mengenai sejarah Islam di Banten melalui perspektif Hadhrami sebagai bagian dari upaya dekolonisasi sejarah lokal.
Sementara, Almira Sashih Aprillia Putri Sugiyono akan membawakan penelitian bertajuk “Preserving the Cultural Heritage of Islamic Mataram: The Dynamics of Conservation and Tourism Development of the Kartasura Palace Heritage in Sukoharjo Regency (1976–2022)”. Kajian tersebut membahas dinamika pelestarian warisan budaya Keraton Kartasura serta pengembangan kawasan sejarah sebagai destinasi wisata budaya.
Sedangkan Siti Amalitaturrodiyah Sy akan mempresentasikan karya berjudul “Madina the Civilized: Batak Islam in Sumatra and the Muslim Community in Mandailing Land”. Penelitian tersebut mengulas perkembangan Islam di tanah Mandailing dan kehidupan masyarakat Muslim Batak di Sumatera yang berkembang berdampingan dengan budaya lokal.
Melalui pendekatan sejarah publik, mereka mencoba menghadirkan narasi sejarah yang dekat dengan masyarakat sekaligus relevan dalam perkembangan historiografi kontemporer. Kegiatan seminar tersebut juga akan menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai negara, diantanya dari Brazil, Michel Kobelinski yang merupakan Secretary IFPH–FIHP sekaligus profesor di Universidade Estadual do Paraná (UNESPAR). Ia akan membawakan materi bertajuk “Public History, Museums, Heritage, and Education”.
Selain itu, para peserta juga akan mendapatkan materi dari Paul Ashton dari Australian Centre for Public History, University of Technology Sydney dan Centre for Applied History, Macquarie University. Ia akan menyampaikan materi “Harnessing History: Public History as Praxis”.
Sejumlah akademisi dan praktisi sejarah publik yang dijadwalkan untuk hadir diantaranya adalah, Agus Mulyana (Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia), yang akan membawakan materi mengenai museum dan sejarah publik. Pradipto Niwandhono (Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga) dengan materi mengenai transmisi sejarah intelektual dalam diskursus publik. Bonnie Triyana (Pimred Majalah Historia) yang akan berbagi pengalaman melalui sesi “Di Balik Majalah Historia”.
Tidak hanya mengikuti seminar internasional, Almira Sashih Aprillia Putri Sugiyono, Safinatunnajah, dan Siti Amalitaturrodiyah Sy juga akan mengikuti workshop. Workshop tersebut akan dibimbing oleh Kreshno Brahmantyo (Universitas Indonesia) dan Dias Pradadimara (Universitas Hasanuddin). Pendampingan ini guna memperkuat kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan metode penelitian dan penyampaian sejarah kepada publik.
Rangkaian kegiatan seminar dan workshop ini akan diakhiri dengan kunjungan sejarah ke Kampung Peneleh dan Kampung Maspati di Surabaya. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung praktik sejarah publik yang berbasis komunitas dan ruang sosial masyarakat.
Kaprodi Sejarah Peradaban Islam, Latif Kusairi,M.A turut mengapresiasi keberhasilan Almira Sashih Aprillia Putri Sugiyono, Safinatunnajah, dan Siti Amalitaturrodiyah Sy yang berhasil lolos dalam Seminar dan Workshop Sejarah Publik tingkat internasional tersebut. Menurutnya, capaian ini membuktikan bahwa mahasiswa sejarah juga mampu bersaing di forum akademik internasional melalui kajian-kajian sejarah yang berbasis lokalitas namun memiliki nilai global. Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus aktif meneliti, berkarya, dan membawa sejarah Indonesia ke panggung internasional.
