KabarFAB – Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan Seminar Internasional Mahasiswa bertema “Youth and Knowledge in Transition: Decolonial Discourse in Language, History, and Islam”, bertempat di Gedung Graha UIN Raden Mas Said Surakarta pada Selasa, 7 Oktober 2025. Acara dimulai pukul 08.30 WIB dan dihadiri oleh sekitar 650 mahasiswa baru angkatan 2025 serta mahasiswa asing yang berada di lingkungan UIN Raden Mas Said Surakarta.















Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Abdullah Aly, penceramah sekaligus pengurus Islamic Center of Olympia, Washington State, Amerika Serikat, dan Dr. Surahmad, S.Pd., M.Hum. dari Fakultas Bahasa dan Seni, Program Studi Sastra Indonesia/Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Semarang. Kegiatan dipandu oleh Dr. Muntaha, M.A. sebagai moderator.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Adab dan Bahasa, Prof. Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi serta semangat kepada seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa seminar ini merupakan wadah penting bagi generasi muda untuk mengkritisi hubungan antara pengetahuan, sejarah, dan wacana dekolonial. Dalam era perubahan sosial, politik, dan teknologi yang begitu cepat, peran mahasiswa dan akademisi muda sangat penting dalam membentuk masa depan pengetahuan yang lebih adil, inklusif, dan bebas dari warisan kolonialisme.
Prof. Imam juga mengajak peserta untuk merefleksikan bahwa bahasa, sejarah, dan Islam bukan sekadar bidang kajian akademik, tetapi juga kerangka hidup yang membentuk identitas, nilai, serta cara pandang terhadap dunia. Melalui pendekatan dekolonial, generasi muda diharapkan mampu merebut kembali narasi, menggugat paradigma dominan, dan menumbuhkan perspektif alternatif yang menjunjung keberagaman dan keadilan.
Dalam sambutannya, Prof. Imam turut menyinggung pentingnya dunia digital sebagai ruang baru bagi bahasa dan ekspresi. Ia menjelaskan bahwa bahasa kini tidak lagi terbatas pada teks dan kata-kata, melainkan juga dapat disimbolkan dalam berbagai bentuk seperti emotikon. Ia mendorong para mahasiswa untuk menjadikan seminar tersebut sebagai bagian dari jejak digital yang bermakna dan bernilai positif bagi masa depan. Setiap kegiatan positif, menurutnya, merupakan bentuk investasi nilai yang akan berguna dalam perjalanan kehidupan.
Melalui seminar ini, Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta berharap dapat menumbuhkan kesadaran kritis, memperluas wawasan akademik, serta memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan budaya. Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata peran aktif mahasiswa dalam membangun jejaring ilmiah internasional dan menghadirkan gagasan-gagasan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, Abdullah Aly menjelaskan tentang perkembangan serta strategi dakwah Islam di Amerika Serikat yang kini menjadikan Islam sebagai salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat di negara tersebut. Ia juga menguraikan berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses penyebaran Islam di Amerika Serikat.
Sementara itu, Dr. Surahmad, S.Pd., M.Hum. memaparkan materi tentang dinamika wacana dekolonial dalam konteks budaya populer, khususnya melalui fenomena anime dan K-Pop. Menurutnya, anime dan K-Pop kini tidak lagi sekadar hiburan populer, melainkan telah berkembang menjadi bentuk wacana sosial yang berperan penting dalam membentuk pengetahuan dan kesadaran kritis anak muda Indonesia. Awalnya, simbol, slogan, dan visual dari anime maupun K-Pop hanya dimanfaatkan sebagai gimmick untuk meningkatkan eksposur di media sosial. Namun, seiring waktu, budaya populer ini mengalami perembesan ideologi dan berubah menjadi ruang produksi pengetahuan yang mampu memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berperilaku generasi muda. Sebagai wacana, anime dan K-Pop menjadi praktik sosial yang turut membangun cara pandang dunia (worldview) serta menanamkan nilai-nilai tertentu dalam masyarakat.
Budaya populer, lanjutnya, berfungsi layaknya cermin budaya (cultural mirror) yang merefleksikan nilai, norma, dan aspirasi masyarakat pada zamannya. Jika pada masa lalu masyarakat menggunakan wayang untuk memaknai realitas sosial, kini generasi muda menggunakan anime atau K-Pop untuk memahami kehidupan dan mengekspresikan identitas mereka. Fenomena ini tampak jelas ketika generasi Boomer cenderung mengutip tokoh bijak, generasi Milenial mengutip intelektual, sedangkan generasi Z banyak mengutip karakter anime sebagai referensi nilai dan moral. Dengan demikian, anime dan K-Pop menjadi bagian dari dinamika wacana yang memproduksi pengetahuan dan membentuk order of thinking yang berdampak pada sikap serta perilaku sosial.
Anime bahkan mengalami proses ideologisasi, di mana ia tidak lagi hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang bagi refleksi dan produksi kesadaran sosial. Melalui kisah-kisah yang mengandung nilai perjuangan, solidaritas, dan kritik terhadap kekuasaan, anime membantu penontonnya memahami isu-isu seperti oligarki, militerisasi, dan ketimpangan sosial. Pengetahuan yang dihasilkan dari pengalaman menonton anime dapat memunculkan kesadaran politik dan mendorong partisipasi sosial, meskipun kontribusinya terhadap gerakan sosial bersifat minor dan tetap membutuhkan dukungan dari elemen masyarakat sipil lainnya.
Sementara itu, K-Pop mengalami transisi dari fase “idol-logic” menuju “ideologic”. Pada awalnya, fandom K-Pop lebih berorientasi pada pemujaan terhadap idola, membentuk hubungan patron-klien yang didasari fanatisme. Namun, seiring berkembangnya kesadaran sosial di kalangan penggemar, fandom K-Pop mulai bertransformasi menjadi kelompok masyarakat sipil yang mampu mengartikulasikan aspirasi politik dan sosial secara kolektif. Fenomena ini dikenal sebagai k-popification politik, di mana komunitas penggemar memanfaatkan kekuatan budaya populer untuk mengekspresikan sikap kritis dan solidaritas terhadap isu-isu publik.
Secara keseluruhan, Dr. Surahmad menegaskan bahwa anime dan K-Pop telah berevolusi menjadi wacana ideologis dan praksis sosial yang memperkuat kapasitas kritis generasi muda Indonesia. Melalui representasi simbolik dan partisipasi komunitas, budaya populer ini bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga alat refleksi, pembentukan identitas, serta penggerak kesadaran sosial dan politik dalam kehidupan modern.
