KabarFAB – Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta pada Selasa, 02 Juni 2026 menyelenggarakan kegiatan Public Lecture dan Bedah Buku Orbituari Prof. Dr. KH. Syamsul Bakri, S.Ag., M.Ag. berjudul “Tanpo Tedeng Aling-Aling”. Acara ini berlangsung di Ruang Mataram Corner Fakultas Adab dan Bahasa dan diikuti oleh kurang lebih 40 mahasiswa serta dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam.













Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Latif Kusairi, M.A., menyampaikan bahwa Prof. Syamsul Bakri merupakan sosok akademisi yang memiliki produktivitas tinggi dalam dunia akademik. Berbagai penelitian dan karya beliau banyak berfokus pada kajian Sejarah Peradaban Islam, Sufisme Nusantara, dan dinamika sosial-keagamaan masyarakat. Selain itu, Prof. Syamsul Bakri dikenal sebagai intelektual Muslim yang mengedepankan pendekatan historis, kultural, dan humanistik dalam memahami Islam.
Menurut Latif, melalui kegiatan bedah buku orbituari ini, Program Studi Sejarah Peradaban Islam berupaya memahami lebih dalam pemikiran dan perjalanan intelektual Prof. Syamsul Bakri sebagaimana tergambar dalam buku Tanpo Tedeng Aling-Aling. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa maupun dosen untuk memahami tidak hanya pemikiran, tetapi juga laku hidup Prof. Syamsul Bakri dalam mengembangkan nilai-nilai ke-Islam-an yang kontekstual dan humanis.
Dalam kesempatan tersebut, dua dosen dari Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Moh. Ashif Fuadi, M.Hum. dan Dr. Moh. Mahbub, S.Ag., M.Si., menyampaikan kenangan mereka terhadap Prof. Syamsul Bakri. Moh. Mahbub pernah memiliki gagasan bersama dengan Prof. Syamsul tentang keinginan mendirikan pondok pesantren bersama. Sedangkan, Moh. Ashif Fuadi yang merupakan salah satu dosen muda saat itu juga sangat terkenang dengan karakter Prof. Syamsul yang sangat mengayomi terhadap dosen muda sepertinya.
Kegiatan tersebut menghadirkan Sidiq Rahmadi, S.Ag., M.Psi., salah seorang editor sekaligus kontributor buku Tanpo Tedeng Aling-Aling, sebagai narasumber. Sidiq Rahmadi menjelaskan bahwa pemikiran Prof. Syamsul Bakri tidak dapat dilepaskan dari pandangannya mengenai Islam sebagai agama sekaligus peradaban dunia. Islam dipahami sebagai peradaban besar yang sejak awal berkembang melalui dialog dengan berbagai kebudayaan dan tradisi dunia, seperti Hellenis, Persia, Romawi, hingga Tiongkok. Interaksi tersebut melahirkan perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, tata kelola pemerintahan, hukum, dan teknologi dalam dunia Islam.
Menurut Prof. Syamsul Bakri, kemunduran peradaban Islam terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari konflik internal umat, lemahnya penguasaan teknologi dan sains, hingga dominasi modernitas Barat yang berkembang pesat sejak abad ke-19. Hegemoni Barat tersebut memunculkan apa yang disebut sebagai “kekalahan psikologis” umat Islam, yakni kondisi ketika sebagian umat memandang modernitas Barat sebagai simbol kemajuan, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai ancaman terhadap identitas dan spiritualitas Islam.
Berangkat dari kondisi tersebut, Prof. Syamsul Bakri menawarkan pendekatan Islam transformatif sebagai salah satu respons intelektual Muslim kontemporer. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa terdapat tiga tipologi pemikiran Islam kontemporer, yaitu transformatif, reformatif, dan ideal-totalistik. Di antara ketiganya, pendekatan transformatif menjadi gagasan utama yang dikembangkan Prof. Syamsul Bakri. Pendekatan ini berupaya memadukan tradisi Islam dengan sikap terbuka terhadap modernitas, ilmu pengetahuan, dan perubahan sosial tanpa kehilangan nilai-nilai dasar Islam.
Menurut Sidiq Rahmadi, inti pemikiran Prof. Syamsul Bakri terletak pada konsep tasawuf transformatif. Tasawuf dipahami bukan sekadar praktik spiritual individual, melainkan kekuatan moral dan sosial yang mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Tasawuf transformatif berpijak pada Al-Qur’an dan hadis, serta menekankan keseimbangan antara spiritualitas, rasionalitas, dan tanggung jawab sosial.
Nilai-nilai utama dalam tasawuf transformatif meliputi zuhud sebagai sikap bebas dari keterikatan materi, qanaah sebagai pengendalian hati dan kecemasan, tawakal sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah setelah usaha maksimal, serta mujahadah dan tazkiyatun nafs sebagai proses latihan dan penyucian jiwa. Puncak spiritualitas tersebut diwujudkan dalam mahabbah atau cinta kepada Allah yang melahirkan akhlak mulia dan kepedulian sosial.
Sidiq Rahmadi juga menjelaskan kontribusi pemikiran Prof. Syamsul Bakri dalam konteks kehidupan modern melalui konsep Sufi Healing. Konsep ini menempatkan zikir, kontemplasi, dan praktik spiritual sebagai terapi holistik untuk menjaga kesehatan mental dan ketenangan jiwa manusia modern yang dihadapkan pada berbagai tekanan kehidupan. Selain itu, nilai-nilai tasawuf juga dipadukan dengan semangat kebangsaan dan Pancasila guna membangun karakter masyarakat yang humanis, toleran, dan berkeadaban.
