Fakultas Adab dan Bahasa Selenggarakan Penyusunan RPS Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV)

KabarFAB – Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan kegiatan Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) pada Selasa – Rabu, 4 – 5 Februari 2025, bertempat di Aula Yosodipuro Lantai 4 Fakultas Adab dan Bahasa. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran Dekanat, Ketua dan Sekretaris Jurusan, Koordinator Program Studi, serta tenaga kependidikan di lingkungan Fakultas Adab dan Bahasa.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari perguruan tinggi seni dan desain, yaitu Dr. Deny Tri Ardianto, S.Sn., Dipl.Art., dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, serta Rendya Adi Kurniawan, S.Sn., M.Sn., dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang memberikan penguatan dan telaah terhadap dokumen akademik Program Studi DKV.

Di pembukaan acara tersebut, Dekan Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa proses pendirian Program Studi Desain Komunikasi Visual ini telah melalui tahapan yang panjang dan memerlukan konsistensi serta kerja sama lintas unit. Meskipun secara administratif proposal program studi telah siap untuk diajukan, terdapat kendala teknis pada tahap pengajuan sebelumnya sehingga proses tersebut dijadwalkan kembali pada periode berikutnya.

Dekan menjelaskan bahwa keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan Program Studi DKV ini. Di tahun sebelumnya, fakultas belum memperoleh formasi dosen tetap yang sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan keilmuan DKV. Namun demikian, pimpinan universitas tetap memberikan dukungan dan komitmen agar program studi ini dapat dibuka. Sebagai langkah antisipatif, fakultas telah melakukan pengikatan tenaga calon dosen melalui skema kontrak sambil menunggu kebijakan formasi ASN yang relevan.

Selanjutnya, Dekan menegaskan bahwa penyiapan dokumen akademik, khususnya kurikulum dan RPS, harus tetap berjalan meskipun program studi belum resmi dibuka. Penyusunan RPS diarahkan agar memenuhi standar nasional pendidikan tinggi serta memungkinkan adanya irisan dengan mata kuliah sejenis yang telah diselenggarakan pada program studi lain di universitas. Untuk mata kuliah yang memiliki kekhasan bidang Desain Komunikasi Visual, diperlukan dukungan sumber daya manusia yang benar-benar relevan agar kualitas pembelajaran dapat terjamin.

Dekan menyampaikan bahwa Program Studi Desain Komunikasi Visual diharapkan menjadi program studi umum pertama di Fakultas Adab dan Bahasa yang berada sepenuhnya dalam rumpun keilmuan umum. Kehadiran program studi ini dipandang strategis dalam memperluas spektrum keilmuan fakultas serta menjawab kebutuhan pasar dan perkembangan industri kreatif yang semakin pesat.

Dalam konteks pengembangan universitas, Dekan menyinggung arah kebijakan pengembangan program studi vokasi di masa mendatang. Namun demikian, pengembangan tersebut perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan tumpang tindih dengan program studi sarjana yang telah ada. Oleh karena itu, Program Studi DKV diharapkan dapat dikembangkan secara optimal sebagai program studi sarjana yang memiliki karakter profesional dan daya saing tinggi.

Selain itu, Dekan juga menyampaikan informasi terkait penataan penugasan dosen yang dilakukan oleh pimpinan universitas. Penataan tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan kelembagaan dan pengamanan data pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Dekan mengajak seluruh sivitas akademika untuk menyikapi kebijakan tersebut secara positif dan komunikatif demi kepentingan institusi dan pengembangan program studi.

Menutup sambutannya, Dekan berharap kegiatan penyusunan RPS ini dapat menjadi ruang diskusi akademik yang produktif serta menghasilkan masukan konstruktif dari para narasumber. Masukan tersebut diharapkan dapat menyempurnakan dokumen RPS Program Studi DKV sehingga siap digunakan sebagai bagian dari persyaratan pembukaan program studi dan pelaksanaan pembelajaran di masa mendatang.

Di sesi hari pertama (Selasa, 04 Februari 2026), Dr. Deny Tri Ardianto menyampaikan materi bertajuk Implementasi Outcome-Based Education (OBE) di Bidang Seni, Desain, dan Industri Kreatif: Menuju Kurikulum Adaptif, Responsif, dan Berdampak. Ia menjelaskan bahwa OBE merupakan pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada hasil belajar (learning outcomes), yaitu kemampuan nyata yang dapat ditunjukkan mahasiswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran, bukan semata-mata pada materi yang diajarkan di kelas.

Dr. Deny juga memaparkan bahwa penerapan OBE di Indonesia memiliki landasan regulasi yang kuat, antara lain Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang telah diperbarui melalui Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), standar akreditasi BAN-PT dan LAM, serta kebutuhan industri yang diperoleh melalui tracer study lulusan. Regulasi tersebut menegaskan bahwa capaian pembelajaran lulusan mencakup aspek sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus yang harus tercermin dalam kurikulum dan RPS.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa OBE menandai pergeseran paradigma pembelajaran dari teacher-centered learning menuju student-centered learning. Melalui pendekatan ini, proses pembelajaran dirancang secara terstruktur mulai dari penetapan capaian pembelajaran, pemilihan metode ajar, hingga penyusunan asesmen yang relevan. Penilaian dalam OBE berfungsi untuk memvalidasi ketercapaian kompetensi mahasiswa, bukan sekadar untuk pemeringkatan.

Dalam konteks pendidikan seni dan desain, Dr. Deny menyoroti pentingnya penerapan metode pembelajaran partisipatif dan kolaboratif, seperti case method dan team-based project. Ia juga membagikan praktik baik penerapan OBE di Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS Surakarta melalui pendekatan backward design, yang dimulai dari perumusan profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), hingga penetapan bahan kajian, mata kuliah, dan bobot SKS. Asesmen dilakukan berbasis rubrik yang terukur, portofolio review, serta melibatkan praktisi eksternal untuk menjamin relevansi dengan kebutuhan industri kreatif.

Menurutnya, implementasi OBE yang konsisten terbukti memberikan dampak positif, antara lain peningkatan capaian akademik mahasiswa, masa studi yang lebih tepat waktu, peningkatan prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional, serta penguatan jejaring kerja sama dengan industri dan institusi mitra.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan telaah dokumen akademik Program Studi DKV. Dalam sesi ini, para peserta secara bersama-sama meninjau dan menyelaraskan RPS dengan capaian pembelajaran lulusan, capaian pembelajaran mata kuliah, metode pembelajaran, serta sistem asesmen agar selaras dengan prinsip OBE dan kebutuhan industri kreatif.

Di hari kedua ini, kegiatan diisi dengan pemaparan dan telaah dokumen RPS oleh narasumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Rendya Adi Kurniawan, S.Sn., M.Sn. Materi yang disampaikan berfokus pada evaluasi struktur RPS berbasis Outcome-Based Education (OBE), kesesuaian capaian pembelajaran, serta penguatan karakter dan kekhasan Program Studi DKV di lingkungan UIN.

Dalam pemaparannya, Rendya menyampaikan bahwa secara umum struktur RPS DKV telah mengikuti alur OBE dengan baik, mulai dari Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), hingga Sub-CPMK. Namun demikian, ia menyoroti masih adanya ketidaksesuaian CPMK dan Sub-CPMK pada beberapa mata kuliah, seperti Copywriting dan Fotografi Eksperimen, yang perlu segera direvisi agar selaras dengan karakter dan kompetensi mata kuliah.

Selain itu, Rendya juga menekankan pentingnya penajaman batas antara mata kuliah Game Studies dan Serious Game. Menurutnya, Game Studies seharusnya diposisikan sebagai mata kuliah berbasis kajian dan analisis kritis, sementara Serious Game lebih tepat diarahkan sebagai mata kuliah berbasis studio dan penciptaan karya.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah integrasi CPL Sikap dan Keterampilan Umum ke dalam CPMK, Sub-CPMK, serta indikator penilaian. Ia menegaskan bahwa dalam pendekatan OBE, capaian pembelajaran harus terukur secara nyata melalui asesmen. “Jika tidak dinilai, maka capaian tersebut pada hakikatnya tidak tercapai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Rendya mendorong penguatan ciri khas UIN Raden Mas Said Surakarta dalam RPS DKV melalui integrasi nilai keislaman, etika komunikasi visual, dan moderasi beragama yang diwujudkan dalam konteks fungsi dan dampak karya desain, bukan sekadar simbolisasi.