Dari Sastra ke Layar Lebar: Mahasiswa Sastra Inggris Gelar Screening Film di Sam’s Studio Colomadu

KabarFAB – Selasa malam, 9 September 2025, menjadi saksi bagaimana sastra bisa menjelma menjadi tontonan layar lebar yang menegangkan. Sam’s Studio Colomadu penuh sesak oleh ratusan penonton, dari mahasiswa hingga masyarakat umum, yang berbondong-bondong menyaksikan dua film terbaru garapan mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta. Bukan sekadar screening biasa, acara ini menjadi perayaan kerja keras, kreativitas, dan keberanian mahasiswa melangkah ke dunia industri kreatif.

Dua film yang ditayangkan malam itu sama-sama berakar dari karya sastra klasik dunia. Film pertama, Black Box, diadaptasi dari cerpen legendaris The Lottery karya Shirley Jackson. Dengan pendekatan lokal budaya jawa, mahasiswa berhasil meramu ulang kisah tentang tradisi dan kengerian tersembunyi menjadi film yang mencekam sekaligus relevan. Sementara itu, film kedua bertajuk The Ninth merupakan adaptasi dari The Ninth Skeleton karya Clark Ashton Smith, seorang penulis horor klasik Amerika. Nuansa horor pekat yang ditawarkan film ini membuat suasana studio kian hidup, antara teriakan penonton, desah lega, hingga tepuk tangan meriah.

Acara screening yang dibagi ke dalam empat sesi ini sukses besar: semua kursi terisi penuh. Antusiasme penonton begitu terasa sejak pintu dibuka hingga layar terakhir meredup. Bahkan, beberapa penonton mengaku tak menyangka karya mahasiswa bisa tampil dengan kualitas yang begitu serius. “Rasanya seperti nonton film indie yang bisa bersaing di festival,” komentar salah satu penonton seusai pemutaran.

Dalam sambutannya, Muhammad Rizal, M.A., dosen pengampu sekaligus pembimbing proyek, menyampaikan rasa bangga sekaligus haru. Menurutnya, film ini lahir dari keringat mahasiswa yang berproses selama satu semester penuh. “Film ini adalah bentuk nyata keberanian mahasiswa keluar dari zona nyaman akademik, sekaligus langkah awal untuk mengenal lebih dekat dunia industri kreatif. Hasilnya mungkin masih kasar, tapi justru di situlah letak pembelajarannya,” ujar Rizal.

Robith Khoiril Umam, M.Hum., Koordinator Program Studi Sastra Inggris, juga memberikan sambutan yang tak kalah hangat. Ia menyapa langsung para orang tua wali yang hadir, seolah menegaskan bahwa karya mahasiswa ini adalah milik bersama. Lebih jauh, ia menekankan bahwa Sastra Inggris kini tak hanya berkutat pada kajian teks dan teori, melainkan sudah mulai bergerak masuk ke ranah industri kreatif. “Produksi film ini menjadi bukti konkret bahwa Sastra Inggris punya prospek kreatif. Kurikulum kami pun dirancang dengan perspektif industri, agar mahasiswa siap bersaing di dunia yang lebih luas,” jelasnya.

Acara yang dimulai pukul 18.30 dan berakhir pukul 22.30 itu bukan hanya screening, melainkan pengalaman kolektif. Malam itu, ruangan studio seolah menjadi ruang transisi: dari dunia sastra menuju layar lebar, dari sekadar mimpi mahasiswa menjadi langkah nyata. Setiap adegan film, setiap sorot cahaya proyektor, menjadi simbol awal perjalanan baru Sastra Inggris Fakultas Adab dan Bahasa dalam menapaki jalur industri kreatif. Lebih dari sekadar tontonan, malam horor dan misteri di Colomadu ini menegaskan satu hal: bahwa apresiasi sastra tidak hanya berhenti di pembacaan, melainkan juga diadaptasi ke media lain. Karya sastra jika digarap dengan tekun dan imajinatif, bisa hidup dengan cara baru dan menjangkau audiens yang lebih luas. Dan bagi mahasiswa Sastra Inggris, layar lebar malam itu bukanlah akhir, melainkan permulaan dari kisah-kisah besar yang akan mereka tulis, baik di atas kertas, maupun di layar.