Bukan sekadar drama, melainkan puncak dari eksplorasi artistik, kerja kolaboratif, dan pencarian makna terdalam dalam dunia sastra dan pertunjukan.
KabarFAB – Mahasiswa semester 4 Program Studi Sastra Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta kembali menorehkan prestasi melalui pertunjukan monumental Fairy Tale XVIII, sebuah final project dari mata kuliah English for Theatrical Production. Tahun ini, pentas bertajuk “SINS” sukses digelar dan menjadi momentum emosional yang menggambarkan perjalanan panjang dan penuh makna dari lima naskah drama yang diangkat ke panggung.



Diselenggarakan setiap tahun sejak 2007, Fairy Tale menjadi ajang tahunan yang tidak hanya menguji keterampilan akting mahasiswa, tetapi juga menjadi laboratorium nyata sebagai bentuk implementasi ketrampilan berbahasa Inggris, sastra, kreativitas, kepemimpinan, dan kerja tim lintas kelas.
“Fairy Tale bukan sekadar pementasan. Ini adalah proyek kolaboratif yang kompleks dan penuh tantangan,” ujar Lidiya, Ketua Pelaksana Fairy Tale XVIII. Tahun ini, empat kelas antara lain Asgard, Benevolence, Clarova, dan Dominate bersatu dalam koordinasi penuh selama hampir sembilan bulan, dari September 2024 hingga Mei 2025, didukung oleh tim pelaksana utama yaitu Tentacle.
Mengusung tema besar “SINS”, lima drama yang dipentaskan mengangkat kisah-kisah penuh dosa, konflik moral, dan refleksi spiritual. Drama utama berjudul Sins of the Father: ZEUS tampil sebagai naskah sentral, didampingi empat naskah pilihan hasil election antar kelas:
- Gwenhyfar: A Verse Of Mist And Moonlight
- Shehrazat: A Rhapsody Of The Lunar And The Solar
- Sigyn n Signy: A Lullaby Of Noise And Silence
- White: A Mirror Of Rue And Reflection
“Kelima drama ini memiliki benang merah tematik tentang dosa dalam berbagai bentuknya, baik yang bersifat personal, sosial, maupun transendental,” ungkap Lidiya.
Proses kreatif selama berbulan-bulan menjadi ajang pembelajaran mendalam bagi para mahasiswa. Bukan hanya tentang teknik panggung dan akting, namun juga keterampilan dalam komunikasi, problem solving, dan manajemen emosi. “Kami belajar menurunkan ego, menyatukan visi, hingga mengelola dinamika antar karakter. Dari sini kami sadar bahwa drama adalah bentuk nyata dari kehidupan,” imbuh Lidiya penuh semangat.
Prof. Dr. Luthfie Arguby Purnomo, S.S., M.Hum.
Dosen Pengampu English for Theatrical Production
“Setiap tahun saya menyaksikan peningkatan baik dari segi artistik, manajemen, maupun kekompakan tim. Harapan ke depan, pertunjukan ini bisa dilangsungkan di gedung teater representatif agar pengalaman mahasiswa semakin maksimal,”
Fairy Tale XVIII bukan hanya menjadi pertunjukan seremonial semata, tetapi juga simbol dari transformasi akademik menuju dunia kreatif profesional. Mahasiswa tidak hanya membaca teks, tetapi menghidupkan makna, meresapi konflik, dan menyampaikan pesan melalui medium seni yang utuh.
Dengan tema “SINS” yang menyentuh sisi tergelap dan terdalam dari kemanusiaan, pertunjukan ini menjadi panggung refleksi, penguatan karakter, dan peneguhan bahwa belajar sastra adalah belajar memahami hidup secara utuh dan jujur.
