KabarFAB – Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 resmi dibuka di Hotel Syariah Solo. Acara yang mempertemukan para akademisi dan delegasi dari berbagai institusi ini berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juli 2025 dengan mengusung tema “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society.“






Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., dalam sambutannya menyatakan bahwa tema ADIA Annual International Conference 2025 kali ini, “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society,” sangat relevan untuk konteks dunia global saat ini. Manusia terlahir dengan beragam perbedaan dan keunikan individual, bahkan sidik jari dan DNA setiap orang pun berbeda. Inilah fitrah manusia.
Di tengah perbedaan individual tersebut, budaya juga lahir dengan keunikannya masing-masing. Setiap budaya dan tradisi masyarakat akan selalu berbeda, tergantung bagaimana masyarakat itu mengembangkannya. Di tengah perbedaan budaya dan tradisi itu, kita dituntut untuk menjaga agar budaya dan tradisi yang kita miliki tetap bertahan dan eksis, terutama saat teknologi digital berkembang pesat.
Ketahanan budaya suatu masyarakat menjadi penting karena ia adalah identitas yang membedakan dengan budaya lainnya. Apalah artinya suatu masyarakat memiliki kemampuan digital yang canggih apabila budaya dan tradisinya hilang dan tidak lagi menjadi identitasnya.
Beliau menyatakan bahwa perkembangan literasi digital yang terus berkembang saat ini seharusnya mendorong kita untuk sadar akan budaya dan tradisi yang kita miliki untuk dipertahankan. Kecerdasan Buatan (AI) tentu saja berkembang secara masif dan pesat, tetapi bagaimana budaya dan tradisi masyarakat kita terus hidup menjadi landasan yang kuat bagi dinamika perkembangan AI. Jangan sampai AI kemudian menjadikan kita tidak beridentitas karena kehilangan budaya dan tradisi.
Databoks menyampaikan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengidentifikasi serta mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks, berita bohong, atau informasi palsu sepanjang tahun 2024. Tentu ini bukanlah budaya dan tradisi kita. Untuk itu, literasi digital dengan empat pilarnya, yaitu kecakapan digital (digital skills), keamanan digital (digital safety), budaya digital (digital culture), dan etika digital (digital ethics), seharusnya menjadi fondasi bagi kita untuk berselancar di dunia digital, termasuk AI, dengan tetap berbudaya dan bertradisi, sehingga kemanusiaan kita tetap terjaga dan terus dijaga.
Di akhir sambutannya, beliau menyatakan selamat berkonferensi, semoga sukses dan mampu menghadirkan rekomendasi ilmiah yang berdampak bagi kebijakan publik.
