KabarFAB – Konferensi Internasional Tahunan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) atau ADIA Annual International Conference 2025 resmi dibuka di Hotel Syariah Solo. Acara yang mempertemukan para akademisi dan delegasi dari berbagai institusi ini berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juli 2025 dengan mengusung tema “Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society.” Prof. Dr. Suyitno, M.Ag., Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama R.I., menyampaikan harapan besar agar acara ini tidak hanya produktif, tetapi juga memberikan manfaat yang luas bagi seluruh anggota forum ADIA, kajian keilmuan, umat, dan bangsa.


ADIA, sebagai forum yang berfokus pada Sosial Humaniora, menghadapi tantangan yang kompleks dan beragam di masa kini, sehingga diperlukan upaya adaptasi, inovasi, dan kemampuan membaca tantangan. Permasalahan saat ini tidak hanya terbatas pada ilmu sosial itu sendiri, tetapi juga mencakup seluruh aspek kemanusiaan, yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun isu yang berdiri sendiri.
Sebagai contoh, ia menyoroti isu politik global terkini, seperti kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat. Meskipun terkesan sebagai urusan ekonomi semata, kebijakan tersebut memiliki dampak multidimensional pada pendidikan, kehidupan kampus, bahkan isu-isu kemanusiaan. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun persoalan, termasuk dalam ranah keilmuan, yang dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, momentum kajian integrasi ilmu menjadi semakin relevan.
Integrasi ilmu yang menggabungkan sains, teknik, rekayasa, dan matematika menunjukkan betapa dunia kini memastikan terjadinya keterpaduan ilmu. Jika kajian ADIA berdiri sendiri, penyelesaian masalah tidak akan tuntas. Untuk itu, ia mendorong paralelisme kajian di ADIA dengan mengundang para pakar dari berbagai disiplin ilmu agar isu-isu tertentu dapat dibedah dari berbagai aspeknya.
Contoh konkret dari upaya integrasi ini adalah re-branding AICIS (Annual International Conference on Islamic Studies) pada tahun 2025 menjadi Annual International Conference on Islam, Science, and Society. Perubahan ini bertujuan untuk menghadirkan kajian Studi Islam yang bersentuhan dengan berbagai sisi lain, termasuk sosial humaniora yang tak terpisahkan dari kajian keislaman itu sendiri. Ini sejalan dengan upaya integrasi ilmu yang selama ini diusung, dengan memadukan berbagai pendekatan keilmuan, termasuk pendekatan ulumuddin yang menjadi dasar pengetahuan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Prof. Suyitno menegaskan bahwa meskipun ada ilmu dakwah, Ushuluddin, dan Syariah sebagai ilmu dasar di PTKIN, upaya integrasi yang sungguh-sungguh sangatlah penting agar integrasi tidak hanya menjadi slogan semata. Sudah saatnya kajian-kajian sains di PTKIN diberikan panggung, dan ilmu-ilmu sosial berbicara tentang isu-isu lokal dan global dalam mengatasi permasalahan saat ini. Kita tidak bisa lagi terpaku pada urusan internal, karena akan terus bersentuhan dengan bidang-bidang lain.
Ia juga menyoroti bagaimana generasi saat ini sangat familiar dengan dunia digital, terutama Generasi X. Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Namun, disayangkan bahwa media sosial belum dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan edukatif, termasuk untuk mendukung pengembangan keilmuan. Hal ini menjadi tantangan bersama yang harus diubah, termasuk dalam pengelolaan berbagai platform media sosial oleh bidang-bidang ilmu, mengingat sebagian besar masyarakat bersentuhan dengan media sosial.
Selain itu, masalah serius lainnya adalah distruksi tata dunia kerja. Sekitar 78 persen pekerjaan yang selama ini dilakukan secara fisik akan beralih ditangani oleh mesin, robot, dan kecerdasan buatan. Fakultas yang berfokus pada sosial humaniora harus mulai memikirkan bagaimana mahasiswa dapat bertahan di tengah pergeseran pangsa kerja ini. Tidak cukup hanya berbicara tentang kepentingan akademik semata, tetapi juga harus memikirkan luaran dan peluang kerja bagi lulusan.
Kampus diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi terhadap kebutuhan pasar bagi para alumni. Kampus bukanlah “pabrik” yang berdiri sendiri tanpa memikirkan pangsa pasar, atau “menara gading” yang terpisah dari realitas. Sebaliknya, kampus harus menjadi “pabrik” yang bertanggung jawab terhadap produk-produk yang dihasilkan. Seringkali, konferensi tahunan hanya memuaskan diri sendiri dalam diskusi, serupa dengan praktik selama ini.
Penting juga untuk tidak melupakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), yang merupakan bagian krusial dari tugas kampus. PKM tidak hanya dimaknai secara sederhana, tetapi juga sebagai upaya memastikan peran akademisi dapat lahir secara terstruktur dan sistematis, serta memberikan solusi terhadap permasalahan kebangsaan dan keumatan.
Tantangan terkini yang tidak kalah penting dan sejalan dengan status kita adalah program SDM Unggul. Presiden telah mencanangkan pendidikan unggul. Jika dilihat dari Global Talent Competitiveness, Indonesia masih harus berjuang keras dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara, dengan peringkat yang masih memprihatinkan dan jauh di bawah Singapura. Hal ini sejalan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pertanyaannya bagi para akademisi dan dosen adalah bagaimana kita dapat meningkatkan IPM nasional.
Prof. Suyitno berulang kali mengingatkan bahwa meskipun sudah ada puluhan rekomendasi yang dihasilkan dari berbagai konferensi, pertanyaannya adalah apakah rekomendasi saja sudah cukup untuk mengatasi tantangan yang ada.
